Maulid di Mahasina, Gus Kautsar: Umat Butuh Jalan Keluar, Bukan Sekadar Nasihat

|

GUGAH — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Pondokgede, Kota Bekasi, Sabtu (3/10/2026), berlangsung khidmat dan semarak. Momentum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi refleksi tentang bagaimana nilai-nilai keteladanan Nabi diterapkan dalam kehidupan umat.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB itu dihadiri sejumlah ulama, habaib, tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan keagamaan, tokoh politik, santri, serta masyarakat.

Ponpes Mahasina Darul Qur’an wal Hadits diasuh KH. Abu Bakar Rahzizi bersama Bu Nyai Hj. Badriah Fayumi. KH. Abu Bakar Rahzizi juga merupakan Rais Syuriyah PCNU Kota Bekasi.

Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya KH. Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar bersama istrinya Ning Jazil, Habib Nabiel Al-Musawa, Ustaz Yusuf Mansyur, serta sejumlah tokoh lainnya.

Menteri Agama Prof. KH. Nasaruddin Umar yang sebelumnya dijadwalkan hadir secara langsung berhalangan hadir. Kendati demikian, ia tetap menyampaikan pesan melalui video singkat yang ditayangkan di layar videotron di lokasi acara.

Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar mengajak jamaah memahami peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran Rasulullah sekaligus ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Strategi Optimalisasi PAD Purwakarta: Sinergi Pemda, Kejari, dan Kesadaran Publik

Namun, ia juga mengingatkan agar perbedaan dalam menyikapi Maulid tidak menjadi alasan untuk menilai kecintaan seseorang kepada Rasulullah.

“Memperingati Maulid adalah bentuk kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah dan ekspresi cinta kepada Nabi. Tetapi orang yang tidak memperingati Maulid belum tentu tidak mencintai Nabi,” ujar Gus Kautsar.

Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Nilai-nilai yang dibawa Nabi perlu diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Gus Kautsar kemudian menekankan pentingnya konsistensi dalam berbuat baik. Sebab, menurut dia, tantangan terbesar bukan sekadar melakukan kebaikan, melainkan mampu mempertahankannya secara terus-menerus.

“Yang sulit itu bukan berbuat baik, tetapi terus berbuat baik,” tegasnya.

Dari sana, Gus Kautsar membawa jamaah pada keteladanan Rasulullah dalam menghadapi persoalan umat, termasuk persoalan ekonomi dan utang.

Ia menceritakan bagaimana Rasulullah menghadapi kondisi ketika ada seorang muslim yang meninggal dunia sementara masih memiliki utang. Pada masa ketika kondisi ekonomi Rasulullah belum lapang, persoalan utang orang yang meninggal turut mendapat perhatian dan didorong untuk diselesaikan melalui kepedulian para sahabat.

Baca Juga:  Sengit Selisih Satu Suara, Nuryana Nahkodai GP Ansor Sumurbatu 2026–2028

Seiring Allah memberikan kelapangan kepada Rasulullah, tanggung jawab tersebut kemudian diambil Nabi. Sementara harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal tetap diberikan kepada ahli warisnya.

Kisah tersebut menurut Gus Kautsar menunjukkan bahwa persoalan umat tidak cukup hanya dijawab dengan nasihat, tetapi membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata.

“Ketika ada jamaah yang datang mengeluhkan persoalan ekonomi, jangan hanya diberi nasihat. Kita harus belajar dari Rasulullah bagaimana menghadapi persoalan nyata yang dihadapi umat dan ikut mencarikan jalan keluarnya,” katanya.

Pesan tersebut menjadi sorotan penting dalam tausiyah Gus Kautsar. Ia mengingatkan para ulama agar tidak berhenti pada posisi sebagai pemberi nasihat ketika masyarakat datang membawa persoalan kehidupan.

Menurutnya, ulama sebagai pewaris para nabi harus berupaya menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata, termasuk ketika umat menghadapi persoalan sosial dan ekonomi.

“Jangan hanya bilang ulama itu warisan Nabi. Bagaimana akhlak dan sifat Nabi, khususnya Rasulullah, itu diimplementasikan. Kalau umat punya persoalan, kita harus ikut memikirkan jalan keluarnya,” ujarnya.

Gus Kautsar juga menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi umat. Menurutnya, umat Islam tidak hanya membutuhkan penguatan dalam aspek spiritual, tetapi juga perlu memiliki kemandirian ekonomi agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dan saling membantu.

Baca Juga:  Disperindagkop Ciamis Tak Tahu Asal Minyakita 1 Liter yang Beredar di Pasar

“Kekuatan ekonomi juga penting bagi umat. Jangan sampai ketika umat menghadapi persoalan ekonomi, kita hanya memberikan nasihat tanpa berusaha menghadirkan solusi. Rasulullah telah memberikan keteladanan bagaimana persoalan umat harus dihadapi dengan kepedulian,” lanjutnya.

Bagi Gus Kautsar, keteladanan Rasulullah tidak cukup hanya dikenang melalui kisah-kisah dalam pengajian. Nilai tersebut harus dihidupkan dalam hubungan sosial, kepedulian kepada masyarakat, serta upaya membangun kemandirian umat.

Pesan itu sekaligus menjadi refleksi bagi kalangan ulama dan tokoh agama agar kehadiran mereka benar-benar dirasakan masyarakat. Ketika jamaah datang membawa persoalan, baik keagamaan maupun kehidupan sehari-hari, ruang untuk memberikan pendampingan dan solusi perlu berjalan beriringan dengan nasihat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Ponpes Mahasina akhirnya tidak hanya menjadi momentum perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi tentang makna mencintai Rasulullah. Kecintaan tersebut diharapkan hadir melalui akhlak, konsistensi dalam kebaikan, kepedulian terhadap sesama, serta ikhtiar menghadirkan kemaslahatan dan kemandirian bagi umat. ***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran