GUGAH.CO – Rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026), seiring penguatan dolar AS yang terus berlanjut di pasar global akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,022% ke level Rp17.835 per dolar AS. Pelemahan ini sekaligus menghapus penguatan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup menguat 0,31% di posisi Rp17.795 per dolar AS.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,04% ke level 101,132 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan tersebut melanjutkan lonjakan 0,49% yang terjadi pada penutupan perdagangan Rabu, menandakan dominasi dolar AS di pasar keuangan global masih sulit dibendung.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut selama dolar AS tetap menjadi aset favorit investor. Meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin terbatas.
Penguatan dolar dipicu oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed masih membuka peluang menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Dolar bahkan berhasil mencapai posisi tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir.
Sinyal tersebut semakin menguat setelah sejumlah pejabat The Fed kembali menegaskan komitmen untuk menekan inflasi. Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan bank sentral AS kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum menunjukkan penurunan yang memadai.
Ekspektasi itu diperkuat oleh data ekonomi AS yang kembali menunjukkan ketahanan. Indeks PMI Komposit versi S&P Global naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, level tertinggi sejak Juli 2021. Kenaikan aktivitas bisnis tersebut didorong lonjakan pesanan baru, namun pada saat yang sama juga memicu kenaikan harga sehingga memperbesar risiko inflasi tetap tinggi.
Usai rilis data tersebut, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober. Angka itu melonjak dari sekitar 53% sebelum data ekonomi dipublikasikan.
Di dalam negeri, Bank Indonesia memilih mempertahankan sikap kebijakan moneternya. Dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 22–23 September 2026, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility tetap di 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan sebesar 6,50%.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%, suku bunga deposit facility sebesar 4,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 6,50%,” ujar Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Keputusan tersebut menandai tiga bulan berturut-turut BI mempertahankan suku bunga acuan sejak Juli hingga September. BI Rate sendiri telah berada di level 5,75% sejak Juni 2026.
Meski mempertahankan suku bunga, BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan melalui upaya menarik aliran modal asing, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui peningkatan pembiayaan ke sektor riil dan percepatan adopsi pembayaran digital.
Dengan dolar AS yang terus menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan membayangi dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat.***



Tinggalkan Balasan