GUGAH – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang tak hanya diwarnai persidangan, adu gagasan, dan perebutan suara. Di tengah forum tertinggi NU itu, beredar kaos bertuliskan “SIAP DICULIK #MuktamarNU.”
Tulisan tersebut terpampang di punggung seorang yang hadir dalam acara Muktamar di Jombang. Huruf kapital bergaya coretan itu seolah menantang: kalau mau menculik, silakan antre.
Di bagian atas kaos terdapat logo dan identitas Nahdlatul Ulama, disertai ilustrasi bernuansa sejarah NU. Namun, perhatian tertuju pada dua kata paling mencolok: SIAP DICULIK.
Foto kaos itu kemudian beredar di media sosial. Pembuat dan pesan persisnya belum diketahui, tetapi pemiliknya berhasil menciptakan jargon yang mudah diingat.
Jika peserta muktamar umumnya membawa jargon tentang kemandirian organisasi, persatuan, dan masa depan NU, kaos ini memilih jalur berbeda. Pesannya terdengar seperti candaan, tetapi juga bisa dibaca sebagai sindiran: dalam muktamar, yang dicari bukan hanya gagasan, melainkan juga orang berpengaruh.
Kata “diculik” tentu tidak harus dimaknai harfiah. Dalam kultur politik dan organisasi, istilah itu kerap menjadi guyonan untuk menggambarkan upaya “mengamankan”, merayu, atau menarik seseorang agar berpihak.
Muktamar merupakan ruang bertemunya berbagai kepentingan, dari forum resmi, lobi, dan silaturahmi hingga percakapan di warung kopi. Kaos itu seolah berkata: “Saya sudah siap. Tinggal siapa yang mau menculik.”
Di balik kelucuannya, terselip pertanyaan serius: seberapa jauh muktamar menjadi arena adu gagasan, dan seberapa besar berubah menjadi arena adu pengaruh?
Pemilik kaos itu tak perlu berpidato. Punggungnya sudah berbicara:
SIAP DICULIK.
Tinggal menunggu siapa yang berani mengambil.***



Tinggalkan Balasan