GUGAH – Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di Desa Warudoyong, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Senin (17/8/2026).
Pawai kemerdekaan yang digelar Pemerintah Desa Warudoyong menjadi ruang kebersamaan warga sekaligus panggung bagi lembaga pendidikan dan masyarakat untuk menampilkan kreativitas dalam menyambut hari kemerdekaan.
Di antara berbagai rombongan yang mengikuti pawai, MI Nahdlatussibyan Cikalongkulon tampil dengan ciri khas tersendiri. Balutan nuansa merah putih, barisan siswa yang tertib, serta kekompakan dalam setiap langkah membuat rombongan madrasah tersebut mencuri perhatian warga di sepanjang rute.
Pawai melibatkan berbagai unsur masyarakat dan lembaga pendidikan. Sedikitnya 30 RT, 6 RW, 4 SD/MI, 2 SMP/MTs, serta 1 SMA/SMK tercatat ikut ambil bagian dalam kegiatan tahunan tersebut.
Bukan Sekadar Seremoni
Kepala Desa Warudoyong, Deni Sujalmo, mengatakan pawai kemerdekaan merupakan agenda tahunan yang tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT RI.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga, khususnya di tingkat RT dan RW, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas.
“Kegiatan ini menjadi ajang tahunan yang selalu diadakan oleh Pemerintah Desa Warudoyong sebagai sarana silaturahmi antara RT dan RW, sekaligus menampilkan berbagai kreasi dari masyarakat,” ujar Deni.
Kekompakan Menjadi Identitas
Penampilan MI Nahdlatussibyan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pawai. Para siswa tidak hanya mengenakan atribut bernuansa kemerdekaan, tetapi juga menunjukkan kedisiplinan dan kekompakan selama mengikuti iring-iringan.
Barisan yang tertata menjadi gambaran bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian tampil di ruang publik juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa.
Kepala MI Nahdlatussibyan, Slamet Rianto, mengatakan pihaknya berupaya memberikan penampilan terbaik dalam berbagai kegiatan parade maupun pawai, meski madrasah tersebut menjadi satu-satunya madrasah swasta dalam kegiatan tersebut.
“Walaupun MI Nahdlatussibyan merupakan sekolah swasta, kami selalu berupaya menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap parade dan pawai. Kami memiliki keunggulan dalam hal kekompakan, kedisiplinan, dan penampilan siswa,” ungkap Slamet.
Menurutnya, keikutsertaan siswa dalam pawai bukan sekadar untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar percaya diri, berinteraksi, dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial masyarakat.
Merah Putih dan Karakter Generasi Madrasah
Nuansa merah putih yang dibawa rombongan MI Nahdlatussibyan menjadi simbol semangat nasionalisme para siswa.
Di tengah suasana pawai yang semarak, para siswa menunjukkan bahwa kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: disiplin, kebersamaan, kreativitas, dan keberanian mengambil peran.
Bagi madrasah, kegiatan seperti ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter pendidikan kepada masyarakat. Nilai keagamaan dipadukan dengan pendidikan karakter, kedisiplinan, kreativitas, dan semangat kebangsaan.
Antusiasme warga yang menyaksikan pawai semakin menambah semarak kegiatan. Beragam kreasi dari RT, RW, dan lembaga pendidikan menjadikan pawai Desa Warudoyong bukan sekadar parade, tetapi ruang bertemunya warga dalam suasana kebersamaan.
Bagi MI Nahdlatussibyan, berjalan dalam iring-iringan pawai bukan tujuan akhir. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk membangun kepercayaan diri, belajar bekerja dalam tim, sekaligus menunjukkan keberadaan madrasah di tengah masyarakat.
Penampilan yang rapi, kompak, dan penuh semangat merah putih menjadi pesan sederhana bahwa madrasah swasta pun memiliki ruang untuk tampil, berkembang, dan memberikan warna dalam kehidupan masyarakat.***
gugah.co | Menggerakkan Perubahan



Tinggalkan Balasan