Dari Kernet Angkot, Yudi Nurcahyadi Bangun Usaha hingga Pimpin Organisasi

|

GUGAH  – Jalan hidup seseorang tidak selalu dimulai dari tempat yang nyaman. Bagi Yudi Nurcahyadi, perjalanan itu berawal dari pintu angkutan kota jurusan Leles–Kadungora, tempat ia bekerja sebagai kernet saat masih duduk di bangku kelas III SMA.

Keputusan itu bukan karena terpaksa, melainkan bentuk tanggung jawab untuk membantu orang tua. Putra keenam dari 12 bersaudara tersebut memilih mencari uang saku sendiri agar tidak membebani keluarga, sembari tetap bersekolah dan menimba ilmu agama di Pesantren Al-Awwabin Garut.

Saat itu, Yudi hanya bekerja setiap Sabtu dan Minggu. Upah yang diperolehnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah selama sepekan, bahkan sebagian disisihkan sebagai tabungan.

Namun, profesi kernet bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sempat merasa minder ketika bertemu teman-teman sekolah yang memandang rendah pekerjaannya. Meski begitu, rasa gengsi perlahan ia singkirkan karena meyakini bahwa bekerja secara halal jauh lebih mulia daripada bergantung kepada orang lain.

“Kalau mengingat masa itu, saya memang pernah minder. Tetapi saya berpikir, tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur. Justru pengalaman menjadi kernet mengajarkan saya tentang perjuangan, disiplin, dan menghargai setiap rupiah yang diperoleh,” kenangnya Kamis 16/7/2026).

Meniti Karier dari Dunia Transportasi

Setelah lulus SMA, Yudi memutuskan tidak langsung melanjutkan kuliah. Ia memilih tetap berkecimpung di dunia angkutan bersama keluarga. Selama bertahun-tahun ia menjalani profesi sebagai kernet sebelum dipercaya menjadi sopir angkot milik ayahnya.

Baca Juga:  Bupati Garut Tinjau PLTP Darajat, Dorong Energi Bersih dan Dampak Nyata bagi Warga

Pengalaman di jalan membentuk karakter dan memperluas wawasannya. Ia mengenal denyut kehidupan masyarakat, memahami karakter penumpang, sekaligus belajar membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.

Tumbuh Bersama Banser dan Ansor

Di luar dunia transportasi, Yudi tumbuh dalam lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama (NU). Ayahnya, Antara Surahdi, merupakan anggota Banser yang aktif sejak dekade 1960-an hingga akhir 1980-an. Kisah pengabdian sang ayah menjadi inspirasi yang membentuk karakter dan idealismenya.

“Sejak kecil saya sudah akrab dengan cerita tentang Banser. Ayah tidak pernah memaksa anak-anaknya masuk organisasi, tetapi beliau menunjukkan teladan bahwa mengabdi kepada ulama dan masyarakat adalah kehormatan,” ujarnya.

Dorongan tersebut membawanya mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser pada tahun 2000 di Pondok Pesantren Nurul Huda, Cisurupan. Sejak saat itu, jaringan pergaulan, pengalaman kepemimpinan, dan semangat pengabdiannya semakin berkembang.

Menurut Yudi, Banser mengajarkan prinsip untuk menjadi pribadi yang serbabisa, serbakerja, dan serbaguna.

“Dari Banser saya belajar bahwa seseorang tidak boleh berhenti hanya pada satu kemampuan. Teruslah belajar, bekerja, dan mengembangkan diri agar bisa memberi manfaat lebih luas,” katanya.

Kepercayaan pun datang. Ia memimpin Banser Garut selama tiga periode sebagai Kasatkorcab sebelum dipercaya menjadi Kasatkorwil Banser Jawa Barat.

Baca Juga:  Lepas Angkatan XIV, SMK Ma’arif Banyuresmi Teguhkan Komitmen Cetak Generasi Berprestasi dan Berakhlak

Memimpin Organda dan Merintis Usaha

Pengalamannya di dunia transportasi juga membawanya aktif di Organisasi Angkutan Darat (Organda). Dari anggota biasa, ia dipercaya menjadi Sekretaris DPC Organda Kabupaten Garut, kemudian terpilih sebagai Ketua DPC Organda Garut selama dua periode.

Baginya, organisasi bukan penghalang untuk mencari nafkah. Justru organisasi menjadi ruang belajar, memperluas jaringan, dan membuka berbagai peluang usaha.

“Berorganisasi harus total, tetapi keluarga juga harus tetap menjadi prioritas. Saya selalu berusaha membagi waktu antara organisasi, pekerjaan, dan keluarga. Saya banyak belajar dari kisah para tokoh seperti Gus Dur, yang di tengah kesibukannya tetap menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga,” tuturnya.

Berani Mengambil Risiko

Pada 2011, Yudi mengambil keputusan besar dengan menjual dua unit angkot miliknya sebagai modal merintis usaha konstruksi.

Langkah itu penuh risiko. Ia memulai dari proyek-proyek kecil bernilai puluhan juta rupiah hingga perlahan mengembangkan perusahaan yang kini menangani proyek konstruksi bernilai miliaran rupiah dengan puluhan tenaga kerja.

Selain mengembangkan usaha, ia juga aktif di Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) untuk meningkatkan kompetensi di bidang konstruksi.

“Semua usaha besar pasti dimulai dari pekerjaan kecil. Yang penting jangan takut memulai dan jangan berhenti belajar,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jenal Abidin Bersinar di Panggung Nasional, Bukti Nyata Keseriusan Dinas Pertanian Sukabumi

Pendidikan sebagai Investasi

Meski telah sukses sebagai pengusaha, Yudi tidak berhenti belajar. Atas dorongan keluarga dan sahabat-sahabatnya di Ansor, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum Garut (STHG) dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada periode 2017–2021.

Menurutnya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang harus ditempuh siapa pun, termasuk mereka yang telah lebih dahulu berkecimpung di dunia usaha.

Kini, Yudi dikenal sebagai pengusaha konstruksi, Ketua DPC Organda Kabupaten Garut, sekaligus tokoh organisasi yang aktif membangun sinergi antara dunia usaha, transportasi, dan organisasi kemasyarakatan.

Meski demikian, ia mengaku tidak pernah melupakan masa-masa ketika menggantung di pintu angkot sebagai kernet.

“Kalau saya bisa berdiri di titik ini, semuanya bukan semata-mata karena kemampuan pribadi. Ada doa orang tua, dukungan keluarga, didikan para kiai, pengalaman di Banser dan Ansor, serta silaturahmi dengan banyak orang. Saya percaya, keberhasilan bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga keberkahan dalam mengabdi,” ujarnya.

Perjalanan hidup Yudi Nurcahyadi menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Dengan ketekunan, keberanian mengambil peluang, kemauan terus belajar, dan semangat mengabdi, seorang kernet angkot mampu meniti jalan panjang hingga menjadi pengusaha sekaligus pemimpin organisasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. ***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran