Bukan Sekadar Lulus MAKESTA, Kader Baru IPNU-IPPNU Plered Langsung Diberi Ruang Memimpin

|

GUGAH — Kaderisasi sering kali berhenti ketika pelatihan selesai. Peserta pulang membawa materi, sertifikat, dan pengalaman, tetapi belum tentu mendapat ruang untuk menguji apa yang telah dipelajari.

PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Plered memilih jalan berbeda.

Sehari setelah mengikuti MAKESTA Al-Faruq, para kader baru tidak langsung kembali menjadi penonton. Mereka dilibatkan dalam Seminar dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang digelar di SMAN 1 Plered, Desa Cibogohilir, Kecamatan Plered, Purwakarta, Sabtu (15/8/2026).

Pelibatan peserta MAKESTA dalam kepanitiaan menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka diberi kesempatan mengelola acara, berkomunikasi, bekerja dalam tim, sekaligus belajar mengambil keputusan.

Di titik itu, kaderisasi tidak lagi sekadar berlangsung di ruang kelas. Ia berpindah ke lapangan.

Bagi PAC IPNU-IPPNU Plered, memberi kepercayaan kepada kader baru merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Kesalahan dalam menjalankan tugas bukan dipandang sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

Seminar tersebut juga membawa isu yang dekat dengan kehidupan pelajar. Ustaz Hidayat dari KUA bersama KH Asep Saepulloh, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Plered, menyampaikan edukasi mengenai bahaya pernikahan usia dini.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Diuji: Mampukah Biayai 70 Ribu Siswa Swasta atau Sekadar Janji?

Peserta diajak memahami bahwa keputusan menikah membutuhkan kesiapan, bukan hanya secara usia, tetapi juga mental, pendidikan, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi kehidupan berkeluarga.

Materi lain datang dari sektor pertanian. Acep dan Indra dari LPPNU Purwakarta bersama BPP memberikan wawasan mengenai pertanian dan potensi keterlibatan generasi muda dalam sektor yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.

Dua tema tersebut memperluas cakrawala kader. Organisasi tidak hanya berbicara tentang struktur dan kegiatan, tetapi juga tentang persoalan nyata yang dihadapi pelajar dan masyarakat.

Kegiatan itu turut dihadiri Ketua MWCNU Kecamatan Plered TB Seda Ahmad Ziyad dan Kepala SMAN 1 Plered. Kehadiran mereka memperlihatkan dukungan terhadap ruang belajar dan kaderisasi pelajar NU di Plered.

MAKESTA Bukan Garis Akhir

Instruktur MAKESTA, Rizky, mengatakan ukuran keberhasilan kaderisasi tidak berhenti pada terselenggaranya pelatihan.

Menurutnya, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah MAKESTA selesai: apakah kader baru diberi ruang untuk bergerak atau kembali menjadi peserta pasif.

Baca Juga:  IPNU-IPPNU Purwakarta Temui Kepala Kemenag, Siapkan Program Besar Tangkal Radikalisme hingga Judi Online di Sekolah

“Kita sering berbicara tentang kaderisasi, tetapi kadang lupa bahwa kader baru membutuhkan ruang untuk membuktikan dirinya. Karena itu, ketika peserta MAKESTA diberi kesempatan menjadi panitia, mereka tidak hanya belajar menjalankan sebuah acara, tetapi sedang belajar memimpin, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan bekerja bersama. Di situlah kaderisasi menemukan bentuk nyatanya,” ujar Rizky.

Menurut Rizky, memberi peran kepada kader baru memang sederhana. Namun, dari ruang sederhana itu tumbuh pengalaman yang tidak selalu bisa diperoleh melalui materi.

Kader belajar menghadapi persoalan, menyelesaikan perbedaan, membagi tugas, berbicara dengan orang lain, hingga bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil.

“MAKESTA adalah pintu masuk, bukan garis akhir. Kalau setelah MAKESTA mereka hanya kembali menjadi penonton, maka kita kehilangan momentum kaderisasi. Tetapi ketika mereka diberi ruang untuk bergerak, berekspresi, melakukan kesalahan, belajar memperbaiki, dan kembali mencoba, maka kita sedang menumbuhkan kader yang memiliki pengalaman nyata. Kaderisasi bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan, tetapi juga tentang kepercayaan yang kita berikan,” tambahnya.

Baca Juga:  Belajar Memimpin Sejak Muda: Makesta IPNU-IPPNU Tanjungsari Tanamkan Jiwa Organisasi pada Pelajar

Dari Peserta Menjadi Penggerak

Seminar dan RTL MAKESTA Al-Faruq menjadi upaya PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Plered menjaga agar kaderisasi tidak bersifat seremonial.

Kader baru diarahkan untuk mengenal organisasi sekaligus berani mengambil peran di dalamnya. Mereka tidak hanya didorong memahami nilai-nilai ke-IPNU-IPPNU-an, tetapi juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan membaca persoalan di lingkungan sekitar.

Pola semacam ini penting bagi keberlanjutan organisasi. Sebab organisasi tidak tumbuh hanya dari banyaknya anggota, tetapi dari lahirnya orang-orang yang bersedia bekerja ketika dibutuhkan.

Di Plered, proses itu dimulai dari hal sederhana: memberi kepercayaan kepada mereka yang baru saja belajar.

Dari peserta menjadi panitia. Dari menerima materi menjadi mengambil keputusan. Dari sekadar hadir menjadi ikut menggerakkan.

Sebab kaderisasi yang hidup bukan hanya tentang berapa banyak anak muda yang mengikuti MAKESTA, tetapi tentang berapa banyak dari mereka yang setelahnya berani berdiri, mengambil tanggung jawab, dan memberi manfaat bagi lingkungan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran