Di Antara Deru Kendaraan, Dua Pengayuh Becak Menjaga Napas Terakhir Transportasi Tradisional Purwakarta

|

GUGAH – Matahari mulai meninggi saat suasana di kawasan Taman Sri Baduga Situ Buleud, Jumat (17/7/2026), tak seramai akhir pekan. Di seberang patung badak, dua becak diparkir menyerong saling berhadapan menghadap jalan. Pemiliknya duduk santai, sesekali memandang kendaraan yang lalu lalang, berharap ada penumpang yang menghampiri.

Mereka adalah Abdul Rozak (80) dan Ajat Sudrajat (68), dua pengayuh becak yang masih setia bertahan di tengah semakin pudarnya minat masyarakat terhadap transportasi tradisional.

“Sudah narik belum, Pak?” tanya saya membuka percakapan.

Abdul Rozak tersenyum tipis. Wajahnya tampak tenang, tetapi nada suaranya menyiratkan kegelisahan.

“Wah baru begini saja. Saya baru satu kali nganter penumpang. Kalau Pak Ajat belum sama sekali,” ujarnya.

Percakapan pun berlanjut. Agar suasana lebih cair, saya mendekat diri dan memperkenalkan diri sebagai wartawan serta meminta izin untuk berbincang, keduanya menerima dengan ramah.

Baca Juga:  Syukuri Jalan Mulus, Warga Pesanggrahan Purwakarta Gelar Festival 1.000 Kastrol Nasi Liwet

“Boleh, silakan kang,” jawab Ajat Sudrajat.

Tak perlu waktu lama, keluh kesah mereka mengalir.

Menurut Ajat, mencari penumpang kini jauh lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu. Dalam sehari, satu hingga dua penumpang sudah dianggap lumayan.

“Akhir-akhir ini orderan becak sepi, Kang. Kalau untung pun sehari paling cuma satu atau dua orderan,” katanya.

Bagi Abdul Rozak, perubahan itu terasa sangat nyata. Selama puluhan tahun mengayuh becak, ia pernah menikmati masa ketika becak menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat Purwakarta.

Bahkan, profesi itu pernah mengantarkannya ke Tanah Suci. Dari hasil mengayuh becak selama bertahun-tahun, Abdul Rozak berhasil menunaikan ibadah haji dan dua kali umrah.

Kini, kenangan itu tinggal cerita.

Ia mengenang, sekitar satu dekade lalu para pengayuh becak selalu menanti musim kelulusan taman kanak-kanak. Saat itu sekolah-sekolah kerap mengadakan pawai atau keliling kota menggunakan becak sebagai bagian dari perayaan wisuda.

Baca Juga:  PAD Purwakarta Terpuruk di Triwulan Kedua, Sinyal Kuat Kegagalan Kinerja Pendapatan Daerah?

Tradisi tersebut menjadi berkah tersendiri bagi para pengayuh becak karena dalam sehari mereka bisa memperoleh banyak pesanan.

“Setelah Dedi Mulyadi melarang wisuda, jadi tidak ada orderan becak lagi,” ucap Abdul Rozak.

Penumpang Didominasi Lansia

Di tengah berubahnya gaya hidup masyarakat, becak perlahan kehilangan peminat dari kalangan muda.

Baik Abdul Rozak maupun Ajat mengatakan, penumpang mereka saat ini hampir seluruhnya berasal dari kelompok lanjut usia.

“Biasanya ibu-ibu yang ke pasar,” kata Ajat.

Abdul Rozak mengangguk mengiyakan.

“Kadang ada juga wisatawan di Situ Buleud yang naik becak, tapi kebanyakan ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah berusia,” tambahnya.

Di kawasan wisata yang terus berbenah, keberadaan becak kini lebih sering menjadi pelengkap suasana daripada pilihan utama transportasi.

Meski demikian, keduanya tetap datang setiap hari. Mereka memarkir becak di lokasi yang sama, menunggu dengan sabar siapa pun yang masih membutuhkan jasa kayuhan mereka.

Baca Juga:  Ekonom Trimegah Dukung KEM-PPKF 2027 Prabowo, Desak Perluasan Basis Pajak dan Obligasi Renminbi

Saat ditanya apakah pernah menerima bantuan becak atau program khusus dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk mendukung sektor wisata, keduanya menggeleng.

Mereka mengaku tidak mengetahui adanya bantuan tersebut dan hingga kini belum pernah menerima becak maupun dukungan serupa dari pemerintah.

Di tengah laju modernisasi dan hadirnya berbagai moda transportasi yang lebih praktis, Abdul Rozak dan Ajat Sudrajat memilih tetap mengayuh. Bukan semata mempertahankan pekerjaan, melainkan menjaga satu warisan yang perlahan menghilang dari wajah Purwakarta.

Setiap kayuhan becak mereka hari ini bukan lagi sekadar mengantar penumpang menuju tujuan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik geliat sebuah kota, masih ada orang-orang yang bertahan dengan kesederhanaan, menggantungkan harapan pada roda-roda tua yang terus berputar meski semakin jarang dicari.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran