GUGAH – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kota Bekasi mengusulkan pendirian Politeknik Teknologi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular (Politeknik Persampahan) sebagai langkah strategis menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal yang mampu menjawab tantangan perkembangan industri pengelolaan sampah modern di Kota Bekasi.
Usulan tersebut menjadi salah satu rekomendasi strategis dalam Rapat Kerja Cabang (Rakercab) IKA PMII Kota Bekasi yang digelar di Graha Wulansari Kota Bekasi, Sabtu (11/7/2026). Gagasan tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya mendorong Kota Bekasi bertransformasi dari kawasan pengelolaan sampah menjadi pusat pengembangan teknologi lingkungan dan ekonomi sirkular di Indonesia.
Ketua PC IKA PMII Kota Bekasi, Beni Surya, mengatakan Rakercab merupakan momentum untuk melahirkan gagasan-gagasan strategis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Menurutnya, keberadaan TPST Bantargebang, TPA Sumurbatu, hingga pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) harus menjadi peluang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal.
“Kota Bekasi memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan teknologi lingkungan. Kita memiliki TPST Bantargebang, TPA Sumurbatu, dan proyek PSEL yang sedang dikembangkan. Potensi tersebut harus dimanfaatkan sebagai laboratorium hidup sekaligus pusat pengembangan teknologi lingkungan. Sudah saatnya Kota Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kawasan pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi pusat lahirnya tenaga profesional di bidang teknologi lingkungan dan ekonomi sirkular,” ujar Beni.
Menurut Beni, pendirian Politeknik Teknologi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular merupakan langkah strategis agar masyarakat Kota Bekasi tidak hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya industri pengelolaan sampah modern, tetapi mampu menjadi pelaku utama melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kami tidak ingin ketika industri pengelolaan sampah modern berkembang, kebutuhan tenaga ahli justru dipenuhi dari luar daerah. Masyarakat Kota Bekasi harus dipersiapkan sejak sekarang agar mampu mengisi peluang tersebut melalui pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri, mulai dari teknologi waste to energy, pengelolaan limbah modern, hingga ekonomi sirkular. Ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang masa depan SDM Kota Bekasi,” tegasnya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) IKA PMII, Muhammad Nur Purnamasidi. Menurutnya, usulan yang lahir dari IKA PMII Kota Bekasi merupakan terobosan yang layak didorong menjadi agenda nasional.
“Indonesia memiliki berbagai perguruan tinggi dengan kekhususan tertentu, namun belum memiliki institusi pendidikan vokasi yang secara khusus berfokus pada teknologi pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Gagasan dari IKA PMII Kota Bekasi ini layak menjadi pilot project nasional karena menjawab kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, PB IKA PMII siap mengawal usulan tersebut melalui komunikasi dengan kementerian terkait dan berbagai pemangku kepentingan agar dapat diwujudkan menjadi kebijakan yang mendukung pembangunan sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup.
Sebagai tindak lanjut, IKA PMII Kota Bekasi akan menyusun naskah akademik sebagai dasar konseptual pendirian Politeknik Teknologi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular. Dokumen tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah Kota Bekasi, DPRD Kota Bekasi, serta instansi terkait sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengembangan pendidikan vokasi berbasis lingkungan.
Melalui usulan tersebut, IKA PMII Kota Bekasi berharap Kota Bekasi tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki kawasan pengelolaan sampah terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi lingkungan, serta pencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan industri hijau dan ekonomi sirkular di masa depan. ***



Tinggalkan Balasan