GUGAH – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Purwakarta terus menegaskan komitmennya dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui peningkatan kualitas infrastruktur permukiman.
Langkah ini diarahkan untuk menyelaraskan program pembangunan dengan kebijakan daerah, guna mewujudkan kawasan hunian yang aman, layak, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan warga.
Salah satu langkah nyata yang telah diimplementasikan adalah optimalisasi sistem drainase serta pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). Pekerjaan ini telah rampung dilaksanakan di kawasan Perumahan Graha Marina, yang terletak di wilayah perbatasan Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta dan Desa Babakan Cikao, Kecamatan Babakan Cikao.
Kadis Perkim Kabupaten Purwakarta, melalui Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU), Wening Galih Pramudia, S.I.P., menyatakan bahwa penataan kawasan permukiman sangat bergantung pada penguatan infrastruktur dasar yang kokoh dan terencana.
Menurutnya, pembenahan sistem drainase dan pembangunan TPT merupakan dua aspek paling mendesak yang memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan dan keselamatan warga.
“Penataan kawasan permukiman melalui pemasangan Tembok Penahan Tanah dan perbaikan sistem drainase adalah langkah krusial untuk mencegah terjadinya longsor, mengendalikan limpasan air hujan, serta menghindari genangan yang berpotensi memicu terbentuknya lingkungan permukiman kumuh,” ujar Galih dalam keterangannya kepada awak media, belum lama ini.
Dalam pelaksanaannya, Disperkim Purwakarta memastikan setiap jaringan drainase di tingkat permukiman terhubung secara terintegrasi dengan saluran sekunder maupun primer milik pemerintah daerah.
Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko terputusnya aliran air, yang selama ini menjadi penyebab utama munculnya titik-titik genangan baru saat musim hujan tiba.
Secara teknis, Tembok Penahan Tanah dibangun berfungsi sebagai pelindung utama yang menahan tekanan tanah guna mencegah erosi dan pergerakan tanah yang membahayakan bangunan serta hunian warga.
Struktur ini pun dirancang khusus dengan dilengkapi lubang pembuangan air (weep holes), agar air tidak menumpuk di balik dinding yang dapat menimbulkan tekanan berlebih dan merusak struktur bangunan.
Sementara itu, sistem drainase diposisikan sebagai urat nadi pengelolaan air di kawasan permukiman. Galih menekankan bahwa ukuran dan dimensi saluran harus disesuaikan dengan perhitungan volume curah hujan serta luas wilayah tangkapan air, sehingga mampu menampung beban aliran secara maksimal saat intensitas hujan tinggi.
“Perbaikan drainase harus direncanakan dengan cermat dan akurat agar aliran air dapat bergerak lancar menuju saluran pembuangan akhir. Di kawasan yang padat penduduk, kami menyesuaikan jenis saluran yang digunakan, baik model tertutup maupun terbuka, disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan warga setempat,” demikian Galih.*



Tinggalkan Balasan