GUGAH – Fenomena alam yang jarang terjadi kembali menyelimuti kawasan dataran tinggi Kertasari, Kabupaten Bandung. Hamparan rerumputan dan dedaunan tampak memutih pada Selasa (9/6/2026) pagi akibat lapisan es tipis yang terbentuk karena suhu udara yang sangat dingin.
Pemandangan yang sekilas menyerupai salju tersebut viral di media sosial setelah diunggah akun TikTok @yulia****. Dalam video yang beredar, terlihat lapisan es menempel di permukaan rumput, daun, hingga plastik yang berada di area terbuka.
Warga yang merekam video bahkan menunjukkan bagaimana embun yang membeku dapat dikerik dan dikumpulkan seperti butiran kristal es. Fenomena tersebut menarik perhatian warganet karena menghadirkan pemandangan yang tidak biasa di wilayah tropis seperti Indonesia.
Meski terlihat seperti salju, lapisan putih tersebut sebenarnya merupakan embun upas atau frost, yang dalam istilah masyarakat setempat kerap disebut embun bajra. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan tanah dan vegetasi turun sangat rendah sehingga uap air yang menempel berubah menjadi kristal es.
Menurut keterangan warga setempat, suhu udara di kawasan Kertasari pada pagi hari diperkirakan berada pada kisaran 3 hingga 0 derajat Celsius. Bahkan pada puncak musim kemarau, suhu di sejumlah titik dataran tinggi Bandung Selatan disebut pernah mendekati titik beku.
Bagian dari Fenomena Bediding
Munculnya embun upas di Kertasari merupakan salah satu dampak dari fenomena bediding, yakni kondisi udara yang terasa lebih dingin pada musim kemarau dibandingkan periode lainnya.
Fenomena ini tidak hanya dirasakan di Bandung Selatan, tetapi juga terjadi di sejumlah wilayah dataran tinggi Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, suhu udara malam hingga pagi hari mengalami penurunan signifikan seiring menguatnya musim kemarau.
Di kawasan Bandung Raya, suhu udara pada malam hingga pagi hari umumnya berkisar antara 14 hingga 19 derajat Celsius. Sementara wilayah dataran tinggi seperti Kertasari, Pangalengan, Ciwidey, dan Lembang biasanya merasakan suhu yang lebih rendah dibandingkan kawasan perkotaan.
BMKG: Bediding Bukan Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami fenomena bediding yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. BMKG menegaskan bahwa bediding bukanlah fenomena cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman yang lazim terjadi saat musim kemarau.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari terjadi akibat berkurangnya tutupan awan di atmosfer.
“Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang ‘melanda’ seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan,” kata Ida.
Menurut BMKG, minimnya awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh rendahnya kelembapan udara serta masuknya massa udara kering dan dingin dari Benua Australia yang dibawa oleh angin Monsun Australia.
Ida menjelaskan, fenomena ini umumnya mulai dirasakan sejak Juni dan akan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus, terutama ketika malam hari cerah dan angin timuran bertiup lebih kuat.
BMKG juga menegaskan bahwa bediding tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia. Fenomena ini lebih sering dirasakan di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, kawasan dataran tinggi Pulau Jawa, hingga sebagian wilayah Sumatera Selatan dan Lampung.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik menghadapi kondisi udara yang lebih dingin dari biasanya. BMKG menyarankan warga untuk menggunakan pakaian hangat, menjaga kondisi tubuh, dan memperbanyak konsumsi air putih agar tetap nyaman beraktivitas selama periode bediding berlangsung.
Penjelasan tersebut disampaikan BMKG menyusul maraknya unggahan di media sosial yang menyebut suhu dingin tengah “melanda” sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menilai edukasi kepada masyarakat penting dilakukan agar publik dapat membedakan antara fenomena iklim musiman yang normal dengan kejadian cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana.
Mengapa Embun Bisa Membeku?
Secara meteorologis, terbentuknya embun upas dipengaruhi beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan.
Pertama, berkurangnya tutupan awan pada malam hari membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu permukaan tanah turun drastis menjelang pagi.
Kedua, rendahnya kelembapan udara menyebabkan proses pendinginan berlangsung lebih cepat sehingga udara terasa lebih kering dan dingin.
Ketiga, menguatnya Monsun Australia membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Indonesia. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat suhu di kawasan dataran tinggi turun cukup signifikan dan memungkinkan terbentuknya embun upas pada dini hari hingga pagi hari.
Diperkirakan Berlangsung Hingga Puncak Kemarau
Fenomena bediding umumnya mulai terasa sejak Juni dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus. Pada periode tersebut, peluang munculnya embun upas di kawasan dataran tinggi Jawa Barat cenderung lebih besar, terutama ketika langit cerah dan angin timuran bertiup cukup kuat.
Masyarakat yang beraktivitas di wilayah pegunungan diimbau menjaga kondisi kesehatan dan menggunakan pakaian hangat, terutama pada malam hingga pagi hari ketika suhu udara berada pada titik terendah.
Bagi sebagian warga, kemunculan embun upas menghadirkan panorama alam yang indah dan langka. Namun bagi petani, fenomena ini juga perlu diwaspadai karena suhu yang terlalu rendah berpotensi memengaruhi pertumbuhan sejumlah tanaman hortikultura.
Fenomena yang terjadi di Kertasari ini menjadi pengingat bahwa meski Indonesia berada di wilayah tropis, kondisi geografis dan dinamika atmosfer tetap dapat menghadirkan pemandangan unik yang jarang dijumpai, termasuk hamparan kristal es yang membuat dataran tinggi Bandung tampak bak berselimut salju.***



Tinggalkan Balasan