GUGAH – Penguatan Dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.095 terhadap Rupiah menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berdampak buruk. Bagi sebagian masyarakat Purwakarta, terutama petani komoditas ekspor dan keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI), lonjakan dolar justru membawa keuntungan.
Dosen Manajemen Investasi STIE Wikara Purwakarta, Eddy Junaedy, menilai pelemahan Rupiah dapat menjadi berkah tersendiri bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterkaitan langsung dengan pasar global maupun penerimaan devisa dari luar negeri.
“Kalau bagi keluarga PMI atau yang dulu dikenal sebagai keluarga TKW, kemudian petani komoditas ekspor di Purwakarta, kenaikan dolar ini justru menjadi berkah,” kata Eddy saat dihubungi wartawan, Sabtu (6/6) .
Menurutnya, wilayah Purwakarta bagian atas seperti Kecamatan Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, dan Darangdan memiliki sejumlah komoditas unggulan yang terhubung dengan pasar ekspor, seperti kopi, pala, dan cengkeh.
Saat nilai tukar dolar meningkat, harga komoditas berbasis ekspor ikut terdongkrak sehingga pendapatan petani dan pengepul berpotensi meningkat. Selain itu, produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga jualnya relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.
“Komoditas ekspor yang harganya mengikuti pasar global akan mendapatkan keuntungan dari pelemahan Rupiah. Nilai hasil penjualan mereka dalam Rupiah menjadi lebih besar,” ujarnya.
Tak hanya sektor perkebunan, dampak positif juga dirasakan keluarga PMI yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Maniis dan Tegalwaru. Remitansi atau kiriman uang dari luar negeri akan memiliki nilai tukar lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.
Kondisi tersebut diyakini dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong perputaran ekonomi lokal.
“Dengan bertambahnya pendapatan petani dan keluarga PMI, konsumsi masyarakat akan meningkat. Efeknya bisa dirasakan oleh pasar tradisional, toko ritel, hingga pelaku UMKM karena uang yang beredar di masyarakat menjadi lebih banyak,” jelasnya.
Meski demikian, Eddy mengingatkan agar keuntungan akibat tingginya nilai tukar dolar tidak hanya digunakan untuk konsumsi jangka pendek. Ia mendorong pelaku usaha perkebunan memanfaatkan momentum tersebut untuk investasi produktif guna meningkatkan daya saing usaha mereka.
“Sebaiknya sebagian keuntungan dialokasikan untuk investasi, seperti peningkatan teknologi pascapanen, perbaikan kualitas produk, atau efisiensi produksi. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan lebih panjang ketika nilai tukar kembali normal,” katanya.
Terkait kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional akibat penguatan dolar, Eddy menilai Indonesia masih memiliki ruang yang cukup aman dalam jangka pendek.
“Ekspor kita masih lebih besar dibanding impor. Kekhawatiran soal terkurasnya cadangan devisa memang ada, tetapi untuk tiga bulan ke depan saya kira masih aman. Yang perlu diwaspadai adalah kondisi pada bulan keempat atau kelima jika tekanan ini terus berlanjut,” pungkasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan perkembangan pasar keuangan terbaru, nilai tukar dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp18.095 per dolar AS, level yang menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah perdagangan Rupiah.***



Tinggalkan Balasan