JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah tercatat stagnan di level Rp17.761 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi hari.
Namun hingga pukul 07.32 WIB, mata uang Garuda melemah 0,11 persen ke posisi Rp17.781 per dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah sentimen global yang kembali dibayangi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Padahal, indeks dolar AS justru sedikit turun ke level 99,23. Harga minyak mentah dunia juga melemah 7,15 persen menjadi US$96,14 per barel.
Tekanan terhadap mata uang Asia muncul setelah beredar laporan mengenai serangan jet tempur AS dan Israel terhadap kapal Iran di wilayah Selat Hormuz. Insiden itu disebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan proses negosiasi dengan Teheran menunjukkan perkembangan positif.
Media lokal melaporkan serangan terjadi di selatan Pulau Karak dan menyebabkan sejumlah personel Iran tewas. Situasi tersebut memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Teluk Persia.
Akibatnya, mata uang Asia yang sebelumnya sempat menguat karena optimisme perdamaian kembali berbalik melemah. Berdasarkan data Bloomberg, baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan offshore, hingga dolar Hong Kong tercatat terkoreksi pada awal perdagangan.
Di sisi lain, hanya won Korea Selatan yang mampu menguat sekitar 0,18 persen.
Bagi rupiah, tekanan eksternal kini diperparah persoalan fundamental domestik. Sehari sebelumnya, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp17.743 per dolar AS meski sentimen global relatif kondusif.
Tekanan utama berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai US$4,01 miliar. Angka itu melonjak dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$0,15 miliar.
Pelebaran defisit tersebut menjadi yang terbesar sejak kuartal IV-2019 saat pandemi Covid-19 berlangsung. Kondisi itu mencerminkan menurunnya ketahanan eksternal Indonesia di tengah menyusutnya surplus perdagangan.
Surplus perdagangan tercatat turun menjadi US$7,98 miliar dari sebelumnya US$13,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ketika surplus mengecil sementara kebutuhan impor energi dan barang modal tetap tinggi, permintaan dolar di pasar domestik otomatis meningkat.
Situasi ini diperburuk tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal dan meningkatnya sensitivitas investor terhadap aset negara berkembang.
Pelaku pasar menilai rupiah tidak hanya terdampak gejolak global akibat konflik geopolitik, tetapi juga menghadapi persoalan struktural berupa ketergantungan terhadap aliran modal asing dan lemahnya sektor eksternal.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen pun dinilai belum cukup kuat memulihkan kepercayaan pasar.
Di pasar obligasi, pemerintah dan otoritas moneter masih terlihat melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar Surat Utang Negara (SUN). Hal itu tercermin dari penurunan imbal hasil di hampir seluruh tenor.
Yield SUN tenor 10 tahun turun 5,2 basis poin menjadi 6,68 persen. Sementara tenor 4 dan 5 tahun masing-masing turun ke level 6,72 persen dan 6,66 persen.
Meski demikian, penurunan yield belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya persepsi investor. Hal itu terlihat dari pasar obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS (INDON) yang cenderung stagnan di berbagai tenor.
Secara teknikal, rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek. Level Rp17.750 per dolar AS menjadi area support terdekat. Jika tekanan berlanjut, rupiah berisiko bergerak menuju Rp17.800 per dolar AS.
Sementara itu, level Rp18.000 per dolar AS kini mulai dipandang sebagai batas pelemahan paling pesimistis dalam perdagangan harian.
Adapun resistance terdekat berada di area Rp17.700 per dolar AS. Jika mampu menembus level tersebut, rupiah berpeluang menguat menuju Rp17.600 per dolar AS.
Sumber: Bloomberg



Tinggalkan Balasan