GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Selasa (7/7/2026) di zona hijau. Pada pembukaan sesi pertama, indeks menguat 17,5 poin atau 0,3 persen ke posisi 5.933,57, melanjutkan tren positif setelah ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya.
Meski aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia masih belum kembali ramai, sejumlah analis menilai ruang penguatan IHSG masih terbuka dalam jangka pendek.
“Secara teknikal IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Phintraco mencatat likuiditas perdagangan saham dalam beberapa hari terakhir masih berada di bawah rata-rata. Pada perdagangan sebelumnya, volume transaksi tercatat lebih dari 19,6 miliar saham dengan nilai sekitar Rp9,4 triliun. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata harian yang mencapai lebih dari 41 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp24 triliun.
Rendahnya aktivitas perdagangan dinilai mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar. Menurut Phintraco, dominasi investor domestik membuat pergerakan pasar cenderung terbatas karena investor masih menunggu sentimen baru yang mampu menggerakkan indeks.
Selain minimnya katalis positif, maraknya penawaran umum perdana saham (IPO) juga disebut turut memengaruhi distribusi dana investor di pasar modal. Di sisi lain, momentum libur sekolah serta penyelenggaraan Piala Dunia 2026 diperkirakan ikut berkontribusi terhadap melambatnya aktivitas transaksi.
Meski demikian, Phintraco tetap melihat peluang penguatan IHSG masih terjaga.
“Secara teknikal IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” kata Tim Analis Phintraco.
Di sisi fundamental, pasar juga diperkirakan mencermati wacana penurunan kebutuhan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Phintraco, kebijakan tersebut berpotensi memberikan sentimen positif karena dapat mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Hal ini akan direspons positif oleh pasar,” kata Tim Analis Phintraco.
Sebelumnya, Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, menyampaikan proyeksi kebutuhan anggaran program MBG pada 2027 diperkirakan sebesar Rp174 triliun, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya yang mencapai Rp268 triliun. Penurunan kebutuhan anggaran tersebut dinilai dapat memberi ruang fiskal yang lebih longgar bagi pemerintah.***



Tinggalkan Balasan