GUGAH — Sekitar 1.000 warga memadati Masjid Jami Nurul Atiqah, Nangoh, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Sabtu (5/9/2026), dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar MWC NU Bayongbong. Dimulai pukul 08.00 WIB, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan pengajian keagamaan, tetapi juga menggabungkan santunan anak yatim dan pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bagian dari bakti sosial.
Ketua Tanfidziyah MWC NU Bayongbong, H. Asep Rosyad, mengajak jajaran pengurus NU bersama warga Nahdliyin memperkuat sinergi dalam menjalankan gerakan organisasi. Ia menilai evaluasi terhadap pergerakan maupun administrasi perlu dilakukan secara berkala agar tata kelola organisasi semakin tertib dan program NU benar-benar menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.
Menurut Asep, kekuatan NU di tingkat akar rumput harus tumbuh melalui keseimbangan gerakan kultural dan struktural. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga khidmah, mengikuti arahan para kiai sepuh, serta menjalankan organisasi berdasarkan AD/ART agar setiap langkah tetap berada dalam koridor perjuangan Nahdlatul Ulama.
Pesan tersebut berpadu dengan tausiyah keagamaan yang disampaikan KH. Jujun Junaedi dalam rangkaian peringatan Maulid. Kehadiran sekitar 1.000 warga sekaligus menunjukkan bahwa momentum Maulid masih menjadi ruang penting untuk mempererat hubungan antara ulama, pengurus NU, dan masyarakat.
Pada sisi sosial, MWC NU Bayongbong bersama LAZISNU Bayongbong memberikan santunan kepada anak yatim yang berasal dari 18 desa se-Kecamatan Bayongbong. Kegiatan itu turut mendapat dukungan Puskesmas Cilimus melalui layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat yang hadir.
Di antara tokoh yang turut hadir dan mengambil bagian dalam kepedulian tersebut adalah H. Aceng Malky. Kehadirannya tidak sebatas mengikuti rangkaian acara, tetapi juga ditandai dengan pemberian santunan kepada anak yatim sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap generasi yang membutuhkan dukungan bersama.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa peringatan Maulid dapat dikembangkan menjadi gerakan sosial yang lebih luas. Pesan keteladanan Nabi Muhammad SAW diterjemahkan melalui penguatan organisasi, kepedulian terhadap anak yatim, serta pelayanan kesehatan yang langsung menyentuh kebutuhan warga.
Bagi MWC NU Bayongbong, perpaduan antara dakwah dan aksi sosial tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan NU yang tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga responsif terhadap persoalan masyarakat. Semangat itu sekaligus memperkuat tradisi khidmah Nahdliyin di tingkat kecamatan hingga desa.***



Tinggalkan Balasan