GUGAH – Bagaimana budaya Nusantara dapat menjadi bahasa perdamaian di tingkat global? Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan yang disiapkan Chandra Aditya Nurriefan menjelang seleksi internasional Konferensi Santri Mendunia.
Chandra mematangkan konsep tersebut melalui silaturahmi dan diskusi bersama aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Deni Ahmad Haidar. Ia mengikuti seleksi sebagai representasi Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Purwakarta.
Pertemuan itu membahas peluang budaya lokal sebagai instrumen diplomasi budaya. Nilai keramahan, gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, serta tradisi keilmuan pesantren dinilai memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat global.
Konferensi Santri Mendunia tahun ini mengangkat tema peran santri dalam membawa nilai-nilai kepesantrenan dan kebudayaan lokal untuk menjawab tantangan global. Forum tersebut menjadi ruang bagi santri untuk memperkenalkan gagasan, identitas, dan kontribusi pesantren dalam konteks internasional.
Deni Ahmad Haidar mengatakan, santri memiliki kekuatan karena memadukan kedalaman ilmu agama dengan kekayaan budaya Nusantara.
“Santri adalah perpaduan antara kedalaman ilmu agama dan kekayaan budaya Nusantara. Ketika pemahaman agama yang matang disampaikan melalui pendekatan budaya yang menjunjung keramahan, gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan, nilai-nilai pesantren dapat menjadi bahasa yang universal. Kontribusi santri adalah menawarkan perdamaian, harmoni, dan solusi bagi kemanusiaan global yang bersumber dari kearifan lokal,” ujar Deni, Jumat (4/9/2026).
Menurut Deni, kehadiran santri di forum internasional tidak cukup hanya membawa identitas, tetapi juga harus menghadirkan gagasan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Berangkatlah ke forum dunia dengan mentalitas memberi, bukan meminta. Jadilah santri yang membumi dalam karakter, namun mendunia dalam gagasan. Tradisi pesantren harus mampu berdialog dengan inovasi modern untuk memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.
Tiga Pilar Diplomasi Budaya Santri
Hasil diskusi tersebut menjadi dasar bagi Chandra dalam menyusun tiga pilar strategi geokultural untuk proposal seleksi Konferensi Santri Mendunia.
Pilar pertama ialah Diplomasi Spiritual Berbasis Kedalaman Agama dan Budaya Lokal Nusantara. Gagasan ini menggabungkan nilai-nilai keagamaan pesantren dengan tradisi budaya lokal sebagai pendekatan diplomasi yang menekankan perdamaian, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Pilar kedua adalah Laboratorium Inkubasi Pendidikan dan Akulturasi Budaya Global. Fokusnya meningkatkan kapasitas santri melalui penguasaan bahasa asing, kemampuan komunikasi publik, serta literasi budaya agar mampu berinteraksi dan merespons isu-isu global.
Adapun pilar ketiga, Rumah Budaya Santri Transnasional, merupakan gagasan untuk membangun jejaring kolaborasi santri Indonesia di berbagai negara. Jejaring tersebut diharapkan dapat menjadi ruang promosi budaya pesantren dan budaya Nusantara sekaligus memperkuat kerja sama lintas negara.
Chandra mengatakan, diskusi bersama Deni Ahmad Haidar memberikan masukan penting dalam menyempurnakan konsep yang akan diajukan.
“Masukan yang saya terima menjadi bekal untuk menghadapi tahapan seleksi. Saya berharap dapat melalui seluruh proses dengan baik dan memperoleh kesempatan menjadi delegasi yang membawa gagasan tentang kebudayaan Nusantara di forum internasional,” ujar Chandra.
Melalui konsep tersebut, Chandra berupaya menunjukkan bahwa diplomasi budaya santri tidak hanya berbicara tentang pelestarian tradisi, tetapi juga tentang kemampuan mengolah kearifan lokal menjadi gagasan yang relevan bagi dunia.***



Tinggalkan Balasan