GUGAH – Kabupaten Sukabumi tercatat sebagai daerah dengan angka kematian bayi (AKB) di rumah sakit tertinggi ketiga di Jawa Barat. Catatan tersebut sebelumnya diungkap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat berkunjung ke Sukabumi pada Agustus 2026.
Merespons kondisi itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mendorong penguatan edukasi kesehatan bagi ibu hamil sebagai langkah pencegahan untuk menekan angka kematian bayi.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Isyana Bagoes Oka, mengatakan peran kader di tingkat desa dan kelurahan menjadi kunci untuk mengingatkan ibu hamil agar rutin menjalani pemeriksaan kehamilan.
“Yang paling penting adalah bagaimana para kader terus mengingatkan ibu-ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada saat kehamilan,” ujar Isyana, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, pemeriksaan kehamilan secara rutin memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi risiko sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kalau ada hal-hal yang terlihat dari pemeriksaan kesehatan, bisa diantisipasi sejak dini sehingga pada akhirnya dapat menurunkan angka tersebut,” katanya.
Selain menyoroti tingginya angka kematian bayi, Isyana juga memaparkan upaya pemerintah dalam menekan prevalensi stunting. Berdasarkan hasil pengukuran 2024, angka stunting nasional turun menjadi 19,8 persen dari sekitar 21 persen pada tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan, penanganan stunting dilakukan melalui dua pendekatan, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik berfokus pada pemenuhan gizi, termasuk pemberian makanan tambahan, sedangkan intervensi sensitif mencakup edukasi pola asuh, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penyediaan sanitasi dan air bersih.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), lanjut Isyana, juga menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dalam kesempatan itu, Isyana turut menyoroti masih ditemukannya praktik penggunaan jamban yang langsung membuang limbah ke kolam atau empang, atau dikenal sebagai jamban helikopter. Menurutnya, sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko infeksi pada anak yang berdampak pada terganggunya pertumbuhan.
“Ketika infeksi lebih tinggi, berat badan anak cenderung turun. Kondisi itu dapat menjadi siklus yang berdampak terhadap risiko stunting,” pungkasnya.***





Tinggalkan Balasan