Saat Lahan Waduk Mengering, Tumbuh Harapan di Tanah yang Terbuka

|

GUGAH – Di tepian Tanggul Ubrug, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, wajah Waduk Jatiluhur kini tampak berbeda. Air yang biasanya membentang luas perlahan surut, menyisakan hamparan tanah yang retak namun subur.

Di tengah kekeringan yang datang setiap musim kemarau itu, bukan kepasrahan yang tumbuh, melainkan semangat warga yang turun ke lahan yang terbuka, mengubah dasar waduk yang kering menjadi ladang penghidupan.

Hektaran tanah yang dulunya tertutup air kini berubah hijau. Warga berdatangan membawa cangkul, benih, dan harapan. Mereka menanam palawija, jagung, kacang, cabai, serta sayuran di lahan yang disisakan surutnya air.

Punggung yang membungkuk, tangan yang menyebar benih, dan barisan tunas yang mulai menghijau, menciptakan pemandangan yang sekaligus menyentuh dan mengajak merenung.

Baca Juga:  Struktur APBD Perubahan 2026: Belanja Pegawai Dominan, Jika Diibaratkan Perusahaan Pemda Sudah Bangkrut

Langkah ini bukan sekadar bertani. Ini adalah kearifan yang lahir dari hidup berdampingan dengan alam. Warga memahami irama: saat air surut, tanah digarap; saat air kembali, lahan dikembalikan. Mereka tahu betul bahwa tanah ini bukan milik selamanya, hanya dipinjam di sela-sela perubahan musim.

Namun di balik ketangkasan itu, ada keraguan yang tak bisa disembunyikan. Supriadi (45), warga Kampung Mekarsari yang sehari-harinya berprofesi sebagai nelayan, kini ikut menanam palawija dengan bibit bantuan Dinas Pertanian. Baginya, bertani di lahan waduk ibarat “memasang undian”.

Baca Juga:  Kanwil HAM Jabar Kawal Pembunuhan Satpam Jatiluhur

“Kami sudah menanam sejak empat bulan lalu. Biasanya hujan turun sekitar bulan Oktober, November, Desember. Kalau air datang lebih cepat, tanaman bisa gagal panen, atau hanya sebagian yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya dengan suara tenang namun berat, Sabtu (26/9/2026).

Tanda-tanda perubahan cuaca mulai terasa, langit kerap mendung, bahkan sempat turun gerimis dua kali. “Kalau air keburu naik sebelum panen, kami kembali ke tepian tanpa hasil,” tambahnya.

Harapannya sederhana: dukungan dari pemerintah daerah maupun PJT II, agar keluarga tetap bisa menyambung hidup di musim yang tak menentu ini.

Di sini, kekeringan tidak sepenuhnya musibah, tetapi juga belum tentu menjadi berkah penuh. Ia menjadi cermin: di tangan warga yang tabah, keterbatasan diubah menjadi peluang.

Baca Juga:  KH. Anwar Nasihin Imbau Kader NU Purwakarta Tetap Solid dan Fokus Urus Kemaslahatan Umat

Namun di saat yang sama, ketidakpastian alam mengingatkan kita, ketahanan pangan rakyat tidak boleh hanya diserahkan kepada keberuntungan atau belas kasih musim. Ada kewajiban bersama untuk menjaga agar di antara dua musim, tidak ada warga yang tertinggal tanpa jaminan kehidupan.

Hingga saat ini, hamparan hijau masih menanti di bekas perairan yang luas itu. Warga merawat tanamannya, berdoa agar panen tercapai, sekaligus siap menyerahkan kembali lahan itu kepada air, dengan harapan, musim berikutnya membawa kepastian yang lebih baik.*

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran