GARUT – Cinta, siswi SMKN 1 Garut, menemukan oase di tengah tekanan dunia remaja. Ia menemukan tempat berbagi tanpa rasa takut dihakimi.
Kegiatan Mind Matters garapan IPPNU Kabupaten Garut mengubah pandangan Cinta tentang diskusi. Baginya, forum ini bukan sekadar seminar yang membosankan.
“Menurut saya kegiatannya seru dan menyenangkan karena konsepnya tidak monoton. Ada sesi nonton video yang bikin kami lebih memahami isu yang dibahas, lalu brainstorming dan storytelling yang membuat kami jadi lebih berani menyampaikan pendapat maupun pengalaman pribadi,” ujar Cinta, Rabu (13/5/2026).
Diskusi mengalir santai melalui metode menonton video reflektif dan storytelling. Suasana hangat membuat para peserta terbuka menceritakan beban hidup mereka.
Cinta merasa remaja sering menyimpan masalah sendirian karena takut salah langkah. Ia pun mengapresiasi ruang diskusi yang sangat inklusif ini.
“Kadang pelajar punya banyak hal yang dipendam karena takut tidak dipahami atau takut dihakimi. Tapi di kegiatan ini kami merasa aman untuk bercerita. Kami merasa didengar dan dihargai,” katanya.
Ia belajar banyak tentang empati dari kisah peserta lain. Setiap orang ternyata membawa beban yang tidak mudah dipikul sendirian.
“Kami jadi sadar kalau setiap orang punya cerita dan masalah masing-masing. Dari situ kami belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain dan lebih menghargai perasaan teman-teman,” ungkapnya.
Cinta berterima kasih kepada IPPNU Kabupaten Garut atas inisiatif hebat ini. Ia merasa kebutuhan pelajar saat ini benar-benar terwakili.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada IPPNU Kabupaten Garut karena sudah membuat kegiatan yang sangat bermanfaat seperti ini. Jarang ada kegiatan pelajar yang benar-benar memberikan ruang nyaman untuk kami berbicara dan saling mendengarkan,” tuturnya.
Ia berharap agenda berkelanjutan ini menjangkau lebih banyak sekolah lagi. Ruang aman bagi remaja menjadi kebutuhan mendesak di masa kini.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus diadakan dan mengundang lebih banyak lagi teman-teman dari sekolah lain. Karena menurut saya pelajar sekarang sangat membutuhkan ruang aman seperti ini untuk bercerita, bertukar pikiran, dan belajar saling memahami,” tutur Cinta.
Ia menyukai konsep interaktif yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pesan moral pun lebih meresap dalam ingatan para peserta.
“Kegiatan seperti ini jadi lebih mudah diingat karena kami ikut terlibat langsung, bukan hanya mendengarkan. Jadi pesannya lebih terasa dan lebih dekat dengan kehidupan kami sehari-hari,” tambahnya.***



Tinggalkan Balasan