PURWAKARTA – Menanggapi pemberitaan yang berkembang seputar kegiatan pembinaan ketarunaan di SMKN 1 Purwakarta, khususnya terkait imbauan membawa paving blok sebagai sarana latihan fisik dan mental, Ketua Ikatan Alumni SMKN 1 Purwakarta, Bubun Perkasa, memberikan pandangan dan tanggapan mendalam.
Ia memandang upaya tersebut sebagai langkah positif sekolah dalam membentuk kesiapan peserta didik, sekaligus mengapresiasi kecepatan sikap sekolah dalam merespons dinamika masyarakat.
Menurut Bubun, gagasan yang diterapkan sekolah sejatinya bertujuan mulia, yakni menjamin kesiapan mental dan fisik siswa agar kelak mampu menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Ia mengutip pepati klasik yang relevan dengan konteks pendidikan, bahwa di dalam fisik yang kuat terdapat jiwa yang sehat.
“Saya melihat, itu adalah upaya sekolah untuk menjamin kesiapan mental dan fisik bagi siswa di SMKN 1 Purwakarta. Karena dalam fisik yang kuat terdapat jiwa yang sehat,” ujar Bubun, Rabu (13/5/2026).
Lebih jauh, ia menilai arah kebijakan tersebut selaras dengan cita-cita besar pendidikan di Jawa Barat, yaitu Pendidikan Pancawaluya yang mengusung nilai-nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer (Sehat, Baik, Benar, Cerdas, dan Terampil). Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi landasan penting agar lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan perilaku.
Sebagai perwakilan para alumni, Bubun menyampaikan harapan besarnya agar setiap lulusan SMKN 1 Purwakarta senantiasa memiliki ketangguhan mental, karakter yang kokoh, serta akhlak yang mulia. Hal ini penting demi menjaga nama baik almamater ke mana pun mereka melangkah dan berkarya setelah menamatkan pendidikan.
“Harapan saya pun sebagai Ketua Ikatan Alumni, agar siswa-siswi yang lulus di SMKN 1 Purwakarta memiliki sikap mental dan karakter yang kuat, serta berakhlak yang baik. Agar membawa nama baik almamater di mana pun berada pasca lulus nanti. Upaya sekolah untuk mendidik mental dan karakter sangat saya apresiasi. Karena sekolah adalah kawah candradimuka bagi siswa-siswi yang sedang mengenyam pendidikan,” ujarnya.
Terkait polemik yang sempat muncul, Bubun memahami dan mengapresiasi langkah cepat yang diambil pihak sekolah melalui pernyataan hak jawabnya.
Ia menegaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pada hakikatnya imbauan membawa paving blok tersebut sama sekali tidak bersifat memaksa, melainkan murni sukarela bagi mereka yang mampu. Bahkan, kebijakan itu pun telah dibahas dan disepakati bersama antara pihak sekolah, komite sekolah, serta perwakilan orang tua murid sebelum diterapkan.
Namun, melihat respons dan keberatan yang berkembang di masyarakat, sekolah dengan bijaksana dan bertanggung jawab segera mengambil keputusan untuk membatalkan imbauan tersebut. Langkah ini, kata Bubun, menjadi bukti keterbukaan dan kepekaan sekolah terhadap aspirasi publik.
“Saya pun melihat pernyataan hak jawab dari sekolah yang sangat cepat untuk menjelaskan, yang kemudian kegiatan tersebut jelas dibatalkan. Walaupun sesungguhnya hal itu sifatnya tidak ada paksaan dan sukarela. Bahkan informasi yang saya dapat, bahwa hal itu sudah dibahas antara komite, sekolah dan orang tua siswa sebelum menjadi kebijakan. Dan keputusan sekolah atas kebijakan itu sekarang sudah clear, dan jelas untuk dibatalkan. Saya sebagai alumni berterima kasih atas keputusan tersebut, agar masalah ini selesai,” kata Bubun.*



Tinggalkan Balasan