Rebana Tak Sekadar Kawasan Industri, tapi Ujian agar Pertumbuhan Ekonomi Dirasakan Warga

|

GUGAH – Pengembangan kawasan Rebana Metropolitan kembali ditegaskan sebagai salah satu strategi besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun, di balik rencana pembangunan kawasan industri, pelabuhan, bandara, hingga investasi berskala besar, ada pertanyaan yang lebih penting bagi masyarakat: apakah pertumbuhan itu benar-benar akan meningkatkan kualitas hidup warga yang tinggal di sekitarnya?

Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam pertemuan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan kawasan Rebana memiliki posisi strategis karena masih menyediakan ruang yang luas untuk dikembangkan. Berbeda dengan kawasan metropolitan lain yang mulai menghadapi keterbatasan lahan, Rebana dinilai memiliki modal lengkap, mulai dari kawasan industri, pelabuhan, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, jaringan transportasi, sektor pertanian, pariwisata, hingga peluang investasi yang masih terbuka lebar.

“Kalau ingin mewujudkan Jawa Barat istimewa menuju Indonesia Maju, salah satu kuncinya adalah bagaimana kita mengembangkan Rebana. Kawasan ini sangat potensial dan masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan,” ujar Herman.

Namun, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa investasi besar tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Kawasan industri bisa berkembang pesat, tetapi warga lokal belum tentu memperoleh pekerjaan, pelaku UMKM belum tentu menjadi bagian dari rantai pasok industri, bahkan harga tanah dan biaya hidup bisa meningkat tanpa diikuti kenaikan pendapatan masyarakat.

Baca Juga:  Jabar Dorong Sistem One Man One Vote untuk Pemilihan Ketua Umum PBNU

Karena itu, Herman mengingatkan bahwa masterplan yang disusun bersama JICA tidak boleh berhenti menjadi dokumen perencanaan.

“Masterplan jangan hanya bagus di atas kertas. Kita perlu membedahnya bersama, memberikan feedback, memastikan cocok dengan kondisi di lapangan, kemudian kita eksekusi bersama,” katanya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Rebana tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi dari seberapa efektif rencana itu diterjemahkan menjadi pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan daerah.

Daerah Menjadi Penentu

Herman menegaskan tujuh kabupaten/kota di kawasan Rebana memiliki peran utama dalam menentukan arah pembangunan. Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bertugas memperkuat fasilitasi, sinkronisasi kebijakan, serta dukungan agar setiap daerah dapat berkembang sesuai karakter dan potensinya.

Ia juga meminta pemerintah daerah aktif memberikan masukan terhadap rancangan pengembangan yang masih terus disempurnakan.

Menurutnya, keputusan yang diambil saat ini akan menentukan wajah Rebana dalam puluhan tahun mendatang.

“Ini bukan hanya menyangkut kepentingan pemerintah hari ini, tetapi menyangkut nasib anak cucu kita. Kalau lima tahun ke depan kita salah langkah, dampaknya panjang. Kalau tepat, kita bisa membangun fondasi yang kuat untuk masa depan,” ujarnya.

Baca Juga:  Undangan KDM ke Syuriah NU Banjir Kritik: Jangan Samakan dengan Partai Politik!

Pertumbuhan Harus Terasa di Kantong Masyarakat

Dalam paparannya, Herman menekankan pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan. Ada empat mesin ekonomi yang harus tetap dijaga, yakni belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi, dan ekspor.

Belanja pemerintah diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang mampu menggerakkan ekonomi lokal. Sementara itu, daya beli masyarakat harus dijaga melalui pengendalian inflasi dan ketersediaan kebutuhan pokok.

“Kalau inflasi terkendali, daya beli masyarakat terjaga. Kalau daya beli terjaga, konsumsi masyarakat bisa bertumbuh. Ini penting karena konsumsi memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian,” jelas Herman.

Bagi masyarakat, pesan tersebut memiliki arti sederhana: pertumbuhan ekonomi akan lebih bermakna jika harga kebutuhan pokok tetap terjangkau, lapangan kerja bertambah, dan pendapatan keluarga ikut meningkat.

Industri Harus Mengurangi Kemiskinan, Bukan Memperlebar Kesenjangan

Menurut Herman, tantangan terbesar pembangunan Rebana bukan hanya menarik investor, melainkan memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat sekitar.

Ia menegaskan pertumbuhan kawasan industri harus berjalan beriringan dengan penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.

“Rebana harus inklusif. Pertumbuhan ekonominya harus diikuti penurunan kemiskinan dan pengangguran. Jangan sampai terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi masyarakat di sekitar kawasan industri tidak ikut menikmati manfaatnya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya pabrik yang berdiri atau nilai investasi yang masuk. Yang jauh lebih penting adalah apakah anak-anak muda di sekitar kawasan memperoleh pekerjaan, UMKM berkembang, dan kesejahteraan warga benar-benar meningkat.

Baca Juga:  Fatayat NU Cigugur Dorong Perempuan Perkuat Peran sebagai Pilar Keluarga

Infrastruktur Perlu Terhubung Menjadi Satu Ekosistem

Selain investasi, Herman menyoroti sejumlah pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan, mulai dari pengelolaan sampah, peningkatan kualitas jalan, konektivitas antardaerah, hingga optimalisasi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Menurutnya, keberadaan bandara, pelabuhan, kawasan industri, dan jaringan transportasi harus saling terhubung sehingga membentuk ekosistem ekonomi yang produktif, termasuk mendukung pengembangan industri perawatan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO).

“Bandara dan pelabuhan sudah tersedia. Infrastruktur mulai terbangun. Tinggal bagaimana seluruh simpul ini kita integrasikan sehingga benar-benar menjadi ekosistem ekonomi yang produktif,” ujarnya.

Melalui kerja sama dengan JICA, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap dapat mengadopsi pengalaman Jepang dalam membangun kawasan industri yang tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan Rebana tidak hanya akan dinilai dari angka investasi atau pertumbuhan ekonomi, melainkan dari perubahan yang benar-benar dirasakan warga: lebih banyak pekerjaan, usaha lokal yang berkembang, infrastruktur yang memudahkan aktivitas, dan kualitas hidup masyarakat yang meningkat. Itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah kawasan yang berhasil dibangun.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran