PURWAKARTA – Sebuah kenyataan pahit menimpa megaproyek andalan energi terbarukan nasional. Puluhan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung yang dibangun di atas permukaan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, dilaporkan telah tenggelam dan rusak. Kondisi ini terjadi padahal fasilitas pembangkit tersebut belum genap berusia tiga tahun sejak masa pembangunannya diselesaikan dan diresmikan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, indikasi kuat mengarah pada kerusakan dan kebocoran yang terjadi pada komponen pelampung atau pengapung penyangga panel.
Diduga kuat, kualitas bahan serta mutu pelampung (floater) yang digunakan tidak memenuhi standar teknis dan persyaratan kualitas nasional yang berlaku, sehingga mudah mengalami kerusakan saat beroperasi di atas permukaan air.
Akibat peristiwa ini, sejumlah besar modul pembangkit yang berada di lokasi tersebut kini telah tenggelam ke dasar waduk. Dampaknya, PLTS yang semula digadang-gadang sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada tahun 2023 lalu, saat ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan kehilangan kapasitas produksi tenaga listriknya.
Kondisi ini tentu sangat ironis mengingat proyek berkapasitas 145 Megawatt (MW) tersebut merupakan proyek percontohan pembangkit listrik tenaga surya terapung yang pertama sekaligus menjadi tonggak awal pengembangan energi terbarukan di wilayah Asia Tenggara.

Dibangun di atas wilayah seluas kurang lebih 250 hektare di permukaan Waduk Cirata, pembangkit ini sebelumnya diproyeksikan mampu memasok kebutuhan energi listrik bersih bagi sekitar 50.000 rumah tangga. Selain itu, pembangkit ini juga ditargetkan dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan melalui penurunan emisi karbon hingga mencapai 214.000 ton per tahun.
Namun, kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya. Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun sejak diresmikan, proyek bernilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp1,7 Triliun ini telah mengalami kerusakan serius yang menghambat operasionalnya.
Merespons kejadian yang sangat disayangkan ini, Sekretaris DPC GRIB Jaya Kabupaten Purwakarta, Agie Iesmaya Permana mengungkapkan keprihatinan yang mendalam. Menurutnya, kerusakan yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat merupakan bukti adanya ketidaksesuaian dalam proses pembangunan maupun pemilihan bahan baku.
“Belum juga genap tiga tahun beroperasi, fasilitas ini sudah kembali rusak. Hal ini sungguh sangat disayangkan dan menjadi catatan serius bagi semua pihak,” kata Agie kepada awak media, belum lama ini.
Lebih jauh, ia juga menyoroti ketimpangan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat sekitar lokasi pembangkit. Ia mempertanyakan kinerja nyata proyek yang selama ini acap kali diklaim sebagai bukti keberhasilan program transisi energi nasional.
“Sangat disayangkan jika manfaat keberadaan PLTS Cirata yang kerap dielu-elukan sebagai keberhasilan transisi energi ini, ternyata tidak dirasakan dampak positifnya secara nyata dan merata oleh penduduk yang tinggal di sekitar wilayah pembangunan proyek tersebut,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT. Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) selaku pelaksana dan pengelola proyek, belum memberikan keterangan resmi maupun penjelasan terkait penyebab dan langkah penanganan atas kerusakan fasilitas pembangkit di wilayah kerjanya tersebut.



Tinggalkan Balasan