Di tengah riuh Jakarta yang nyaris tak pernah benar-benar diam, selalu ada ruang bagi suara-suara yang memilih berbicara dengan cara berbeda. Bukan melalui mimbar yang tinggi atau pengeras suara yang memekakkan telinga, melainkan lewat kehadiran yang tenang, kata-kata yang sederhana, dan keyakinan bahwa kesetiaan tetap memiliki tempat dalam kehidupan publik.
Forum Jakarta Nahdliyin menghadirkan ruang itu melalui sebuah aksi solidaritas bagi sosok yang akrab disapa Gus Yaqut. Di balik kesederhanaan bentuknya, aksi tersebut memancarkan satu pesan yang jelas: dukungan tidak selalu diukur dari besarnya keramaian, tetapi dari keteguhan untuk tetap berdiri bersama ketika seseorang menghadapi ujian.
Kalimat “Gus Yaqut, You’re Never Walk Alone” menjadi penanda dari semangat tersebut. Ungkapan yang telah lama dikenal sebagai simbol kebersamaan menjelma menjadi pernyataan bahwa seseorang tidak semestinya menghadapi badai seorang diri. Di tengah derasnya opini publik, silang pendapat, dan dinamika proses hukum, solidaritas hadir sebagai pengingat bahwa setiap orang berhak memperoleh dukungan, empati, dan asas keadilan.

Suara yang sama bergema melalui kelompok ibu-ibu yang menyampaikan pandangannya dengan bahasa keseharian. Tanpa retorika yang berbelit, mereka menghadirkan kritik melalui kalimat-kalimat yang lugas, akrab, bahkan diselingi humor.
“Emak sering bilang, kalau kaga salah jangan disalah-salahin. Dosa!!!”
“Yang korupsi siapa, yang ditangkep siapa… begini nih kalau ngopi nggak di aduk, salah mulu.”
“Nggak ada aliran dana, kerugian negara. 9 saksi kunci nyabut BAP. Nah kan?”
#BebaskanGusYaqut
Ungkapan-ungkapan tersebut tidak lahir dari ruang akademik ataupun perdebatan politik. Ia tumbuh dari bahasa yang hidup di tengah masyarakat, dari cara orang-orang biasa memaknai rasa keadilan dengan logika yang sederhana namun mudah dipahami. Justru karena kesederhanaannya, pesan-pesan itu terasa dekat dan mengundang siapa pun untuk merenung.
Solidaritas dalam peristiwa ini tidak hanya berbicara tentang dukungan kepada seorang tokoh. Lebih jauh, ia merefleksikan ikhtiar untuk menjaga nilai kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari tradisi sosial masyarakat: saling menguatkan ketika ada yang diterpa cobaan, tetap menghormati proses hukum, sekaligus berharap agar keadilan berjalan tanpa dipengaruhi prasangka.

Pada akhirnya, yang hendak disampaikan bukan sekadar keberpihakan, melainkan keyakinan bahwa kemanusiaan selalu menemukan maknanya ketika seseorang memilih untuk tidak meninggalkan yang lain berjalan sendirian. Sebab solidaritas bukan hanya tentang berdiri di samping seseorang saat keadaan mudah, tetapi tetap membersamainya ketika jalan yang dilalui dipenuhi pertanyaan dan ujian.***





Tinggalkan Balasan