Ada yang tersenyum melihat gerbang-gerbang kota berdiri semakin gagah. Namun ada juga yang menggeleng saat mengetahui, dari sekian triliun rupiah anggaran daerah, sekitar Rp2,4 miliar rupiah dialokasikan khusus untuk membangun dan merawat gapura, tugu, pagar, serta taman di berbagai sudut Kabupaten Purwakarta.
Angka itu terhimpun dari belasan pos kegiatan yang tertuang dalam dokumen resmi penganggaran daerah diantaranya;
– Penataan Taman Kapten Halim (Ranca Darah): Rp250.000.000
– Pemeliharaan Tugu Gapura Kota: Rp100.000.000
– Gapura Jl. Mr. Dr. Kusumahatmaja: Rp265.000.000
– Pemeliharaan Pagar Taman Air Mancur Sribaduga dan Taman Surawisesa: Rp150.000.000
– Gapura Batas Purwakarta–Cianjur via Maniis: Rp100.000.000
– Pemeliharaan Pagar Kantor: Rp165.000.000
– Pemeliharaan Pagar dan Gapura Stadion Purnawarman: Rp80.010.000
– Pemeliharaan Taman Ciherang: Rp80.000.000
– Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan: Rp150.000.000
– Pemeliharaan Gapura Masuk Desa Salem: Rp143.000.000
– Gapura Batas Purwakarta–Subang via Cibatu: Rp100.000.000
– Gapura Batas Purwakarta–Karawang via Cikopo: Rp100.000.000
– Penataan Taman Kemuning (Samping Kantor Kecamatan Purwakarta): Rp100.000.000
– Gapura Indung Rahayu Ciganea dan Sadang: Rp90.000.000
– Pemeliharaan Gapura Batas PWK–Bandung Barat via Darangdan: Rp100.000.000
– Pemeliharaan Gapura Kota: Rp600.000.000
Total: sekitar Rp2.403.010.000
Angka yang tak sedikit. Cukup untuk memperbaiki puluhan kilometer jalan rusak, melengkapi fasilitas sekolah di desa-desa terpencil, atau menambah kuota beras bagi keluarga rentan selama berbulan-bulan.
Namun realitanya, dana itu justru disalurkan untuk memperindah gerbang kota yang disapa orang yang lewat, sementara yang tinggal di dalamnya masih berjuang dengan kebutuhan dasar.
Ironinya bukan pada adanya anggaran untuk keindahan kota. Sebuah daerah memang layak tampil rapi dan menyenangkan dipandang mata. Pertanyaannya sederhana: apakah urusan tampilan jalan raya lebih mendesak daripada urusan perut, kesehatan, dan akses warga yang belum terlayani?
Muncul pertanyaan, buat apa gapura megah menjulang dan tugu perbatasan tampak berkilau, jika masyarakat yang melewatinya setiap hari masih harus bergelut dengan harga kebutuhan yang terus naik, jalan menuju ladang yang belum diperbaiki, atau fasilitas kesehatan yang jauh dari jangkauan?
Inilah ironi yang patut kita renungkan bersama: tampilan kota kita makin berkelas, sementara kesejahteraan rakyatnya belum bergerak secepat pembangunan tembok-tembok indah itu.
Pemda seolah kehilangan peta prioritas. Di saat yang sama, keluhan warga soal jalan berlubang, kurangnya ruang kelas sekolah, hingga keterbatasan layanan kesehatan masih mengalir.
Namun yang mendapat perhatian justru yang paling terlihat mata: gerbang yang gagah, pagar yang rapi, dan taman yang tertata cantik, seolah kemakmuran daerah diukur dari bagaimana ia terlihat dari luar, bukan bagaimana dirasakan dari dalam.
Tentu tidak salah memiliki kota yang indah. Yang menjadi catatan bijaksana adalah soal urutan. Seperti orang berkeluarga: memoles teras hingga berkilau sementara dapur masih kekurangan alat masak dan atap rumah masih bocor, itu bukan kebanggaan, itu ketidakadilan.
Masyarakat kini berharap DPRD dan pemerintah daerah kembali menengok daftar kebutuhan rakyat yang sesungguhnya. Jangan sampai generasi mendatang mengenal Purwakarta bukan dari kesejahteraan warganya, melainkan dari deretan gapura yang megah berdiri, sementara cerita di baliknya tak lebih dari sekadar pamer kemewahan di muka pintu.
Karena pada akhirnya, bangunan yang paling megah di sebuah daerah seharusnya bukan gapura di perbatasan, melainkan kesejahteraan rakyat yang tinggal di dalamnya. (redaksi)





Tinggalkan Balasan