Bukan Sekadar Seremoni, Aa Aris Ajak Maulid Nabi Jadi Momentum Teladani Etika Bisnis Rasulullah

|

GUGAH – Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H tidak cukup hanya dirayakan dengan seremonial. Di tengah persaingan dunia usaha yang semakin ketat, keteladanan Rasulullah SAW dalam dunia usaha justru kembali menemukan relevansinya, terutama dalam menjunjung kejujuran, amanah, dan menjaga kepercayaan.

Mustasyar PCNU Kabupaten Cianjur, Aa Aris Mulkan, memandang nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting yang perlu dihidupkan kembali oleh para pelaku usaha, khususnya generasi muda Muslim.

Menurut Aa Aris yang juga Ketua Umum Ngerayap Community, Rasulullah SAW bukan hanya dikenal sebagai pemimpin umat, tetapi juga memiliki pengalaman dalam aktivitas perdagangan. Keteladanan tersebut tercermin dari sikap jujur, amanah, bertanggung jawab, bekerja keras serta mampu menjaga kepercayaan dalam menjalankan usaha.

Baca Juga:  Napak Tilas Perjuangan Bojong Perkuat Kultur dan Semangat Kebangsaan

“Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah dikenal dengan sebutan Al-Amin, yakni sosok yang dapat dipercaya. Nilai itulah yang menjadi modal penting dalam perjalanan hidup dan aktivitas perdagangan beliau,” ujar Aa Aris, Senin (25/8/2026).
Ia mengatakan, kesuksesan dalam berusaha tidak semestinya hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh. Lebih dari itu, proses menjalankan usaha harus dilakukan secara halal, jujur, adil, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Kesuksesan dalam berusaha tidak semata-mata tentang keuntungan, tetapi bagaimana usaha itu dijalankan dengan cara yang halal, jujur, amanah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata .
Menurut Aa Aris, semangat kewirausahaan yang dicontohkan Rasulullah juga mengajarkan bahwa berdagang bukan sekadar mengejar keuntungan pribadi. Dunia usaha dapat menjadi sarana membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Muslim agar tidak takut mengambil peluang menjadi pengusaha yang mandiri, profesional, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
“Generasi muda harus berani menjadi pengusaha yang mandiri dan profesional. Kemajuan ekonomi harus berjalan beriringan dengan moral dan spiritual,” tuturnya.
Ia menambahkan, penerapan nilai shiddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, serta fathanah atau cerdas dapat menjadi fondasi penting bagi pelaku usaha.
Dengan nilai-nilai tersebut, para pengusaha diharapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Kalau nilai shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah benar-benar diterapkan dalam dunia usaha, insyaallah akan lahir pelaku usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membawa kemaslahatan bagi umat,” katanya.
Aa Aris menegaskan, Maulid Nabi pada akhirnya bukan sekadar momentum untuk mengingat kelahiran Rasulullah SAW. Lebih penting, peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata, baik dalam keluarga, bermasyarakat, berorganisasi maupun dalam bidang ekonomi.
“Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H. Mari kita teladani akhlak Rasulullah dan membangun kehidupan ekonomi yang jujur, amanah, mandiri, produktif, serta membawa keberkahan bagi umat dan bangsa,” pungkas Aa Aris, Ketua DKM Miftahusaadah Cibeber itu.***

Baca Juga:  Bojonggambir Juara Umum Khajanah ke-3 FKDT Kabupaten Tasikmalaya

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran