GUGAH — Di tengah kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Katingan menggelar Salat Istisqa dan doa bersama, Senin (24/8/2026).
Kegiatan berlangsung di halaman Kantor Kemenag Kabupaten Katingan sebagai ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan sekaligus mengajak masyarakat melakukan introspeksi di tengah kondisi lingkungan yang terdampak kekeringan dan karhutla.
Salat Istisqa diikuti Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Katingan Elly Saputra, Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono, Kasubbag TU Murhanadi, Kasi Bimas Islam H. Moh. Kariansyah, Kabag SDM Polres Katingan AKP Bahrul Ilmi, Kasubbag TU Kemenhaj Johansyah, para kepala madrasah, pelajar MAN dan MTs, pegawai muslim Kemenag, serta masyarakat.
Kepala Kemenag Kabupaten Katingan, Elly Saputra, mengatakan Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT agar Katingan diberikan kondisi cuaca yang lebih baik dan hujan yang membawa manfaat.
“Yang penting adalah niat kita, memohon kepada Allah agar doa-doa kita dikabulkan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang hadir dan mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, keterbatasan dalam pelaksanaan tidak mengurangi makna dari ikhtiar bersama untuk bermunajat.
Salat Istisqa dipimpin H. Luqman Nulhakim, S.Ag. sebagai imam, sementara khutbah disampaikan H. Moh. Qusairi, S.Ag.
Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan, memperbanyak istighfar, melakukan introspeksi, serta kembali kepada Allah SWT melalui taubat yang sungguh-sungguh.
Menurutnya, kemarau dan bencana yang terjadi semestinya menjadi momentum bagi manusia untuk menyadari keterbatasan diri sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang berpotensi merusak alam. Penanganan bencana, termasuk karhutla, menurutnya, harus dilakukan melalui ikhtiar nyata sekaligus dibarengi doa.
“Masih ada peluang bagi kita semua untuk memohon ampun kepada Allah dan bertaubat,” pesannya.
Jamaah juga diajak memperbanyak istighfar sebagai bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon rahmat Allah SWT dan turunnya hujan, sebagaimana doa Nabi Nuh AS kepada kaumnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Jamaah memohon ampunan, turunnya hujan yang bermanfaat, serta keberkahan dari langit dan bumi.
Doa juga dipanjatkan agar Indonesia senantiasa aman dan tenteram. Khusus untuk Kabupaten Katingan, jamaah memohon keselamatan, keberkahan, serta hujan yang dapat membantu mengatasi kondisi kekeringan dan dampak kabut asap.
Di akhir kegiatan, jamaah diajak memperbanyak istighfar, shalawat, dan sedekah sebagai bagian dari ikhtiar memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Salat Istisqa tersebut menjadi bentuk munajat bersama di tengah tekanan kemarau dan karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan. Di sisi lain, doa tersebut juga menjadi pengingat bahwa upaya menghadapi persoalan lingkungan tidak hanya membutuhkan ikhtiar spiritual, tetapi juga langkah nyata dalam mencegah dan menangani kerusakan lingkungan.***



Tinggalkan Balasan