GUGAH — Kemerdekaan tak selalu berbicara tentang perang dan penjajahan. Di tengah kehidupan masyarakat hari ini, kemerdekaan juga berarti terbebas dari lapar, kemiskinan, keterbatasan pendidikan, serta ketidakberdayaan ekonomi.
Gagasan itu diangkat BAZNAS Kabupaten Bandung pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui tema “Mustahik Merdeka, Bersama Zakat Merdeka dari Segala Keterbatasan.”
Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Yusuf Ali Tantowi, mengatakan makna kemerdekaan perlu diterjemahkan ke dalam persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Menurutnya, bangsa yang merdeka tidak cukup hanya terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus terasa dalam kehidupan warga melalui terpenuhinya kebutuhan dasar, terbukanya kesempatan untuk berusaha, serta hadirnya rasa aman.
Pandangan tersebut ia kaitkan dengan Surah Quraisy ayat 1–4 yang menggambarkan dua kebutuhan mendasar manusia: pangan dan keamanan.
Dua hal itu menjadi gambaran sederhana tentang kesejahteraan. Masyarakat membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, sekaligus rasa aman untuk menjalani dan mengembangkan kehidupannya.
“Jika dahulu para pahlawan berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan, maka perjuangan kita sekarang adalah ikut membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kelaparan, keterbatasan pendidikan dan ketidakberdayaan ekonomi,” ujar Yusuf, dikutip dari laman resmi BAZNAS pada Sabtu (16/8/2026).
Di titik inilah zakat menurut Yusuf memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar bantuan konsumtif.
Dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) perlu dikelola agar mampu membuka jalan bagi mustahik untuk memperbaiki kehidupannya. Bantuan untuk memenuhi kebutuhan hari ini tetap penting, tetapi pemberdayaan menjadi bagian dari perjuangan yang lebih panjang.
“BAZNAS ingin zakat menjadi jalan bagi mustahik untuk bangkit. Mereka kita bantu, kita kuatkan dan kita berdayakan agar semakin mandiri. Cita-cita besarnya adalah mustahik hari ini dapat menjadi muzaki pada masa yang akan datang,” jelasnya.
Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program yang menyasar bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah.
Pendekatan pemberdayaan menjadi penting karena kemiskinan tidak selalu selesai hanya dengan memberikan bantuan. Ada persoalan pendidikan, akses ekonomi, keterampilan, kesehatan, dan kesempatan yang ikut menentukan apakah seseorang bisa keluar dari keterbatasan.
Karena itu, zakat ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk membangun kemandirian, bukan semata-mata sebagai respons atas kesulitan yang datang sesaat.
Bagi Yusuf, semangat kemerdekaan juga menyimpan pesan tentang pengorbanan. Jika generasi terdahulu mempertaruhkan tenaga, harta, bahkan nyawa untuk merebut kemerdekaan, generasi hari ini memiliki bentuk perjuangan yang berbeda: memastikan sesama tidak dibiarkan berjalan sendirian menghadapi kemiskinan.
“Kemerdekaan harus melahirkan kepedulian. Mari tunaikan zakat, infak dan sedekah untuk ikut memerdekakan saudara-saudara kita dari berbagai keterbatasan menuju kehidupan yang lebih berdaya dan bermartabat,” katanya.
Pada akhirnya, ukuran kemerdekaan tidak hanya terlihat dari usia sebuah republik, tetapi juga dari seberapa banyak warganya mampu hidup dengan layak dan memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan.
Di situlah cita-cita Mustahik Merdeka menemukan maknanya: membantu mereka yang hari ini berada di posisi menerima, agar suatu saat memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri—bahkan menjadi pihak yang ikut memberi.***



Tinggalkan Balasan