Proyeksi IHSG April 2026: Uji Level Psikologis 7.000 di Tengah Penantian Suku Bunga Global

JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan akan bergerak mendatar atau konsolidasi sepanjang pekan terakhir April, tepatnya pada periode 27-30 April 2026.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada dinamika kebijakan moneter global, di mana sejumlah bank sentral negara maju dijadwalkan akan merilis keputusan suku bunga acuan mereka.

Kondisi ini menempatkan IHSG dalam posisi yang cukup krusial, dengan potensi untuk menguji kembali level psikologis di angka 7.000 seiring dengan sikap wait and see yang diambil oleh para investor terhadap arah ekonomi dunia dalam jangka pendek.

Fokus perhatian pasar pekan ini tertuju secara kolektif pada pertemuan kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed melalui FOMC Meeting, Europan Central Bank (ECB), hingga Bank of England (BoE).

Baca Juga:  IHSG Terperosok ke Zona Merah Menjelang Rilis PDB Kuartal I-2026 di Tengah Eskalasi Konflik Global

Federal Reserve diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5-3,75 persen pada pertemuan Kamis (29/4/2026) mendatang, sementara ECB dan BoE juga diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga mereka masing-masing di angka 2,15 persen dan 3,75 persen.

Stabilitas suku bunga di level tinggi ini menjadi indikator penting bagi aliran modal asing ke pasar negara berkembang seperti Indonesia, sehingga kepastian dari pertemuan-pertemuan tersebut akan sangat menentukan volatilitas IHSG hingga penutupan perdagangan bulan ini.

Selain blok Barat, pergerakan Bank of Japan (BoJ) pada Selasa (28/4/2026) juga menjadi variabel penting yang dicermati, terutama setelah adanya tren peningkatan inflasi di Jepang yang sempat memicu spekulasi perubahan kebijakan.

Namun, BoJ diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya di level 0,75 persen guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi mereka.

Baca Juga:  IHSG Melejit ke Level 7.186 di Awal Perdagangan, Tertular Sentimen Positif Global

Di sisi lain, deretan rilis data makroekonomi Amerika Serikat seperti Produk Domestik Bruto (PDB) periode Kuartal I-2026, data consumer confidence, hingga indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) Prices akan menjadi sentimen tambahan yang bisa menggerakkan selera risiko investor global terhadap instrumen ekuitas.

Kawasan Euro Area juga tidak luput dari pantauan pelaku pasar dengan agenda rilis data PDB kuartal pertama serta tingkat pengangguran yang akan memberi gambaran mengenai resiliensi ekonomi Eropa di tengah tekanan inflasi.

Kondisi pasar global sendiri cenderung masih bergejolak, tercermin dari pelemahan serentak bursa saham Eropa pada akhir pekan kemarin, di mana indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,75 persen dan CAC Prancis turun 0,84 persen.

Penutupan bursa Wall Street yang bervariatif, dengan Dow Jones melemah ke posisi 49.230,71 meskipun Nasdaq menguat tipis, memberikan sinyal bahwa pasar saham masih mencari pijakan stabil di tengah tingginya beban bunga global.

Baca Juga:  IHSG Tembus Level Psikologis 7.000: Investor Domestik ‘Ngegas’, Asing Justru Lepas Barang

Dari sisi internal, IHSG membawa beban psikologis setelah ditutup melemah tajam sebesar 3,38 persen ke posisi 7.129,49 pada akhir pekan lalu (24/4/2026).

Penurunan signifikan ini juga diikuti oleh merosotnya kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 sebesar 3,51 persen ke posisi 690,76, yang menunjukkan adanya aksi ambil untung massal oleh investor domestik maupun asing.

Dengan akumulasi sentimen dari laporan kinerja emiten domestik serta rilis data ekonomi mancanegara, investor di Bursa Efek Indonesia diharapkan tetap waspada terhadap potensi koreksi lanjutan, sembari mencermati peluang akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat yang harganya mulai terdiskon akibat fluktuasi pasar pekan ini.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *