GUGAH — Di tengah riuhnya dinamika politik nasional, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) justru tengah menyiapkan sebuah langkah yang diyakini akan menentukan wajah organisasi pada abad keduanya. Langkah itu bernama Sa’adatuna, akronim dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Rodia Alfarozie, menilai Sa’adatuna bukan sekadar aplikasi atau proyek digitalisasi organisasi. Menurutnya, platform tersebut merupakan ikhtiar besar untuk memindahkan semangat ta’awun atau saling tolong-menolong ke dalam ruang digital.
“Ini bukan aplikasi. Ini bukan website. Ini urat nadi baru Nahdlatul Ulama,” ujar Rodia dalam pernyataan tertulisnya diterima Gugah.co pada Rabu (29/7/2026).
Menurut Rodia, sejak NU didirikan pada 1926, organisasi ini dibangun di atas fondasi kebersamaan. Semangat itu kemudian diperkuat melalui gerakan Mabadi’ Khaira Ummah yang digagas KH Mahfudz Siddiq pada 1939. Kala itu, kata dia, tantangan terbesar adalah bagaimana menghubungkan jutaan warga NU agar dapat saling membantu.
Kini, dengan jumlah warga Nahdliyin yang diperkirakan mencapai lebih dari 120 juta orang, teknologi digital dinilai menjadi jawaban atas tantangan tersebut.
Rodia menggambarkan berbagai potensi yang dapat diwujudkan melalui Sa’adatuna. Petani di daerah dapat memperluas akses pasar melalui jejaring NU, santri di pelosok lebih mudah terhubung dengan program beasiswa, sementara penanganan bencana dapat berlangsung lebih cepat karena informasi dan relawan berada dalam satu ekosistem yang saling terkoneksi.
Bagi Rodia, langkah PBNU tersebut merupakan strategi jangka panjang yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Saya hanya peduli, kerja strategis sebesar ini harus dilanjutkan. Bukan untuk mendongkrak elektabilitas, tetapi karena kalau NU berhenti di sini, NU akan ditelan zaman dan ditinggal generasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, Sa’adatuna menjadi bukti bahwa NU tidak memilih menjadi organisasi yang hanya menjaga romantisme sejarah, melainkan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan para muassis.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf membenarkan bahwa Sa’adatuna memang sedang dipersiapkan sebagai ekosistem digital yang akan menghubungkan warga NU hingga tingkat akar rumput.
“Dalam waktu dekat kami akan meluncurkan sebuah inisiatif bernama Sa’adatuna. Kami sedang menyelesaikan seluruh persiapannya dan insyaallah akan diluncurkan setelah Muktamar Nahdlatul Ulama,” kata Gus Yahya saat membuka pelatihan Community Emergency Response Partnership (CERP) di Hotel Acacia, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Gus Yahya menjelaskan, Sa’adatuna merupakan akronim dari Satu Alam Digital untuk Nahdlatul Ulama, yang dalam bahasa Arab berarti kebahagiaan kita. Platform tersebut mulai dikembangkan sejak 2023 dan telah digunakan untuk kebutuhan internal organisasi sebelum diperluas hingga menjangkau warga NU di tingkat akar rumput.
Menurutnya, gagasan tersebut berangkat dari cita-cita para pendiri NU untuk membangun sistem yang memungkinkan masyarakat saling membantu secara efektif. Ia mengingatkan kembali gerakan Mabadi’ Khaira Ummah yang diprakarsai KH Mahfudz Siddiq pada 1939 dengan lima prinsip utama, yakni As-Shidq (kejujuran), Al-Wafa bil ‘Ahdi (menepati janji), Al-Amanah (dapat dipercaya), Al-‘Adl (keadilan), dan At-Ta’awun (saling tolong-menolong).
“Tantangan strategis kami saat ini adalah bagaimana menjangkau seluruh warga NU dan menghubungkan mereka satu sama lain. Syukurlah, teknologi digital sekarang memungkinkan hal itu dilakukan,” ujar Gus Yahya.
Dengan jumlah warga NU yang diperkirakan mencapai lebih dari 120 juta orang, Sa’adatuna diharapkan menjadi fondasi baru bagi lahirnya jejaring sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kemanusiaan yang terhubung dalam satu ekosistem digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama yang telah diwariskan sejak hampir satu abad lalu.***



Tinggalkan Balasan