Gus Yahya: Transformasi Pesantren Jadi Agenda Paling Utama NU di Abad Kedua

|

GUGAH – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa transformasi pesantren merupakan agenda paling strategis yang harus diwujudkan Nahdlatul Ulama dalam menyongsong abad kedua organisasi. Menurutnya, masa depan NU tidak bisa dipisahkan dari kemampuan pesantren menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pusat pendidikan dan pembinaan ulama.

Penegasan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri kampanye “Pesantrenku Aman” di Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Gus Yahya, Nahdlatul Ulama sejak awal didirikan sebagai wadah untuk memperkuat peran ulama pesantren. Karena itu, isu pengembangan pesantren harus menjadi prioritas utama organisasi.

“Kegiatan kampanye ‘Pesantrenku Aman’ ini bukan hanya soal memperbaiki citra pesantren di hadapan masyarakat. Karena sebetulnya ini bagian dari agenda yang telah kita tetapkan dalam—bahkan salah satu agenda utama, kalau tidak bisa disebut sebagai paling utama—dalam menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama. Yaitu agenda transformasi pesantren,” ujar Gus Yahya, dalam sambutannya saat Deklarasi ‘Pesantrenku Aman – RMI PBNU, di Palembang, Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga:  GP Ansor Kota Bekasi Dukung Penguatan Bank Sampah dari Dana RW Rp100 Juta, Desak Sanksi Tegas Oknum RW Nakal

Ia menjelaskan, keberadaan NU tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pesantren. Hubungan keduanya telah menjadi fondasi sejarah organisasi sejak didirikan para ulama.

“Nahdlatul Ulama ini adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama pesantren, dimaksudkan sebagai wahana untuk memperkuat kinerja para ulama pesantren di dalam masyarakat dengan konsolidasi di antara mereka. Karena itu, tidak ada yang lebih utama dari agenda Nahdlatul Ulama apa pun itu selain atau melebihi dari agenda terkait pesantren,” katanya.

Baca Juga:  Gus Yahya Tegaskan AD/ART NU Larang Ketum hingga Rais ‘Aam Rangkap Jabatan Politik

Gus Yahya mengingatkan, pesantren kini menghadapi tantangan baru akibat perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut pesantren melakukan transformasi agar tetap relevan bagi masyarakat.

Ia menilai, kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan sebuah lembaga, termasuk pesantren.

“Kita harus berpikir tentang bagaimana pesantren ini harus dikembangkan agar tetap dapat berfungsi secara optimal, berfungsi secara relevan dengan realitas baru dari abad kedua ini,” katanya.

Baca Juga:  Gus Yahya Tegaskan Digdaya Bukan Proyek Pribadi, PBNU Dorong Transformasi Digital NU yang Transparan dan Akuntabel

Menurutnya, transformasi tidak boleh menghilangkan identitas pesantren. Sebaliknya, perubahan harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatan utama pesantren.

Gus Yahya kembali mengingatkan filosofi lama yang menyebut pesantren sebagai cerminan kiai, sementara Nahdlatul Ulama merupakan representasi besar dari dunia pesantren.

“Dulu ada ungkapan yang terkenal sekali, bahwa pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar,” katanya.

Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran NU untuk menjadikan transformasi pesantren sebagai gerakan bersama dalam menghadapi tantangan abad kedua organisasi, sehingga pesantren tetap mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter keislaman dan keulamaannya.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran