GUGAH – Maraknya aksi kriminalitas jalanan yang melibatkan remaja dan pemuda di wilayah Ujungberung mendorong Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ujungberung memperkuat pembinaan spiritual melalui pengajian rutin terbuka untuk masyarakat.
Kegiatan yang digelar pada Kamis malam (23/7/2026) di Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung itu tidak hanya diikuti kader GP Ansor dan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU), tetapi juga terbuka bagi seluruh masyarakat.
Langkah tersebut merupakan respons atas meningkatnya keresahan warga terhadap maraknya tindak kriminal, seperti pembegalan dan penjambretan, yang dalam sejumlah kasus diduga melibatkan pelaku berusia remaja. Aksi kejahatan bahkan disebut mulai terjadi pada pagi hari di beberapa titik rawan.
Ketua PAC GP Ansor Ujungberung, M. Rifqi Ni’am Siroj, M.Hum., mengatakan pembinaan karakter dan spiritual menjadi salah satu upaya preventif dalam membangun generasi muda yang berakhlak serta memiliki arah hidup yang positif.
“Pengajian rutin bukan sekadar agenda organisasi, tetapi merupakan ikhtiar bersama untuk membentuk karakter kader Ansor dan pemuda yang kuat secara spiritual, matang dalam berpikir, dan istiqamah dalam berkhidmat. Tema ‘Nafsu Dikendalikan, Masa Depan Diselamatkan’ mengingatkan kita bahwa kemenangan terbesar seorang pemuda bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri,” ujar Ni’am.
Pengajian menghadirkan Ketua MDS Rijalul Ansor Kecamatan Ujungberung, Ustadz Handika Saputra, M.Pd., yang menyampaikan tausiyah bertema “Nafsu Dikendalikan, Masa Depan Terselamatkan.”
Dalam ceramahnya, Ustadz Handika menekankan pentingnya membangun mental dan spiritual melalui pendalaman ilmu agama. Mengutip QS. An-Nahl ayat 78, ia mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan nikmat yang harus dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan kebaikan.
Ia juga mengulas enam syarat menuntut ilmu sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.
“Pengendalian hawa nafsu tidak cukup hanya dengan menahan diri, tetapi harus dibarengi dengan memperdalam ilmu agama, memperbanyak ibadah, serta terus belajar kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Pemuda yang menghiasi dirinya dengan ilmu, adab, dan mampu mengendalikan hawa nafsu akan mampu menyelamatkan masa depannya, sekaligus menjadi harapan bagi agama, bangsa, dan negara,” tutur Ustadz Handika.
Melalui semangat “Salam Satu Komando”, PAC GP Ansor Ujungberung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang pembinaan bagi generasi muda. Organisasi berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menekan kenakalan remaja sekaligus mencetak pemuda Bandung Timur yang berakhlakul karimah, berilmu, dan bermanfaat bagi masyarakat.



Tinggalkan Balasan