Bukan Mitos, Melainkan Sejarah: Mahkota Binokasih Dibawa Kembali Mengelilingi Tanah Pasundan

SUMEDANG – Sebuah kepastian ilmiah telah mengukuhkan posisi Mahkota Binokasih sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban Nusantara.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa benda bersejarah yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun tersebut bukan sekadar dongeng atau mitologi, melainkan fakta sejarah yang nyata dan terverifikasi secara akademik. Penegasan ini disampaikan usai kunjungan kerja bersama Wakil Gubernur dan Bupati Sumedang, Sabtu (2/5/2026).

Kebenaran mengenai keaslian peninggalan Kerajaan Pajajaran ini didasarkan pada hasil kajian mendalam yang dilakukan oleh para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Melalui analisis yang komprehensif, baik dari sisi nilai historis maupun material, mahkota tersebut dinyatakan sebagai aset berharga yang otentik.

Baca Juga:  Petugas Gabungan Pekertat Jam Oprasional Truk Tambang di Rumpin Bogor

“Saya cukup lama mengamati, apakah ini sejarah, mitologi, atau fakta. Hasil kajian ITB membuktikan secara akademik bahwa ini adalah fakta sejarah yang memiliki nilai kebendaan luar biasa,” ujar Kang Dedi Mulyadi.

Menyadari nilai luhur yang terkandung di dalamnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk mengambil peran lebih besar dalam pelestarian dan pengelolaan aset ini. Selama ini, tantangan dalam pembiayaan dan aksesibilitas menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar nilai edukasi dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Salah satu langkah bijak yang diambil adalah mengembalikan prosesi perjalanan mahkota ini kepada nilai-nilai asli budaya. Jika sebelumnya sering diarak menggunakan kendaraan modern, maka mulai tahun ini, Mahkota Binokasih akan dibawa melalui Kirab Budaya yang kental dengan nuansa tradisi.

Baca Juga:  Berbekal Ilmu dan Adab, 62 Siswa MA Plus Al Hikam Sumedang Terjun ke Masyarakat dalam Program PPL

“Kita tidak lagi pakai mobil, tapi prosesi budaya murni. Kirab ini akan melintasi delapan tempat di Jawa Barat dan puncaknya akan digelar di Kota Bandung,” jelasnya. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap leluhur dan kearifan lokal.

Lebih jauh, Dedi Mulyadi menyoroti bahwa keindahan dan kerumitan pembuatan mahkota serta busana kerajaan lainnya adalah cerminan bahwa masyarakat Jawa Barat sejak zaman dahulu telah memiliki standar estetika dan peradaban yang sangat tinggi.

Baca Juga:  Perkuat Perlindungan Pekerja, Pemkab Sumedang Bentuk Satgas Khusus Pengawas Industri

“Kalau kita lihat pakaian kerajaan, itu menunjukkan selera dan seni yang sangat halus. Begitu juga dengan musik kita yang melambangkan kelembutan. Meski jejak fisik istana mungkin sudah sulit ditemukan, namun keberadaan batu tulis dan Mahkota Binokasih ini menjadi bukti jati diri kita yang luhur,” tambahnya.

Melalui rangkaian kirab dan penguatan peran museum, diharapkan generasi muda dapat semakin mencintai akar budayanya sendiri, mengenali sejarah kebesaran daerahnya, dan menjadikan warisan leluhur ini sebagai sumber inspirasi bagi masa depan yang beradab.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *