GUGAH – Komisi IV DPR RI mendorong percepatan hilirisasi garam di Bali dengan mengembangkan berbagai produk bernilai tambah, seperti kosmetik dan layanan spa berbahan baku garam. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan petambak garam sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
Dorongan tersebut disampaikan saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Unit Yasa Segara, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (17/7/2026).
Menurut Komisi IV, potensi garam rakyat tidak seharusnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi. Komoditas tersebut memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu menembus pasar pariwisata maupun industri kesehatan.
Bali Dinilai Potensial Kembangkan Hilirisasi Garam
Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mengatakan Bali memiliki keunggulan karena sektor pariwisatanya dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi produk turunan garam.
Ia menilai pengembangan spa berbahan garam menjadi salah satu contoh konkret hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai jual komoditas lokal.
“Tadi kita melihat kawasan ini memang merupakan daerah wisata. Sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai daya tarik tambahan melalui spa yang memanfaatkan garam untuk produk kosmetik,” ujarnya.
Panggah menegaskan, keberhasilan hilirisasi garam membutuhkan dukungan pemerintah secara berkelanjutan. Dukungan tersebut meliputi peningkatan kualitas produksi, standardisasi mutu, pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga penguatan industri hilir.
Dengan pengelolaan yang baik, garam rakyat diyakini mampu menjadi komoditas unggulan yang memberikan nilai tambah lebih besar dibanding hanya dijual sebagai bahan baku.
Marine Spa Jadi Etalase Produk Kelautan
Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR RI juga meninjau Gerai Marine Spa yang dibina Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Koperasi Unit Yasa Segara.
Gerai tersebut tidak hanya menyediakan layanan spa, tetapi juga menjadi pusat promosi berbagai produk biofarmakologi berbahan baku hasil laut yang diproduksi kelompok binaan.
Staf Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar, Resti Yully Astuti, mengatakan produk yang dipasarkan meliputi garam spa, sabun rumput laut, lulur berbahan rumput laut, serta berbagai produk turunan hasil kelautan lainnya.
“Gerai Marine Spa ini bukan hanya untuk jasanya saja, tetapi juga menjadi tempat menampilkan produk-produk biofarmakologi hasil laut. Produk-produk tersebut merupakan hasil kelompok binaan, termasuk dari Nusa Penida, meskipun saat ini pemasarannya masih dalam skala kecil,” ujarnya.
Menurut Resti, keberadaan gerai tersebut menjadi wadah promosi sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk hasil olahan masyarakat pesisir.
Hilirisasi Garam Diharapkan Tingkatkan Kesejahteraan Petambak
Komisi IV DPR RI berharap pengembangan hilirisasi garam terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah, koperasi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk garam lokal, memperluas pasar industri berbasis kelautan, serta menciptakan nilai tambah yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petambak garam dan masyarakat pesisir.***



Tinggalkan Balasan