GUGAH – Berkurangnya pasokan air akibat musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian di sejumlah wilayah Kota Tasikmalaya. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas lahan pertanian menurun, sehingga pasokan gabah ke penggilingan padi ikut berkurang dan memicu kenaikan harga di tingkat pasar.
Pelaku usaha penggilingan padi mengungkapkan bahwa kekeringan yang melanda sejumlah areal persawahan membuat pertumbuhan tanaman padi tidak berlangsung optimal. Selain menurunkan hasil panen, minimnya ketersediaan air juga berdampak pada kualitas gabah yang dihasilkan petani.
Pemilik penggilingan padi di Sukarindik, Kecamatan Bungursari, Ismail, mengatakan jumlah gabah yang masuk ke tempat usahanya mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal. Menurutnya, banyak petani menghadapi kesulitan mempertahankan produktivitas tanaman karena sawah kekurangan air.
“Gabah yang masuk ke penggilingan semakin sedikit sejak musim kemarau. Banyak padi yang tidak berkembang optimal karena sawah kekeringan,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Menurunnya produksi di tingkat petani berdampak langsung terhadap harga gabah. Keterbatasan pasokan membuat harga jual gabah mengalami kenaikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Selain harga gabah, komoditas beras juga mulai mengalami penyesuaian. Berkurangnya bahan baku dari hasil panen membuat pelaku usaha penggilingan harus menyesuaikan biaya produksi, meskipun mereka berupaya menjaga agar kenaikan harga tidak terlalu membebani masyarakat.
Ismail mengaku khawatir apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan. Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi memperparah penurunan produksi sekaligus memengaruhi kualitas hasil panen yang akan dipasarkan.
Di sejumlah wilayah, petani yang masih mengandalkan sistem tadah hujan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kekeringan. Keterbatasan sumber air membuat sebagian petani memilih mempercepat masa panen guna mengurangi risiko kerugian yang lebih besar.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu petani menghadapi kondisi tersebut. Program pompanisasi, pembangunan sarana irigasi, hingga penyediaan benih yang lebih tahan terhadap cuaca kering dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas pertanian.
Selain itu, upaya stabilisasi harga juga diperlukan agar petani tetap memperoleh keuntungan yang layak di tengah meningkatnya biaya produksi akibat kekeringan yang berkepanjangan.
“Kalau pasokan air berkurang, hasil panen menurun. Dampaknya bukan hanya dirasakan petani dan penggilingan, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen,” katanya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan daerah sangat bergantung pada ketersediaan air yang memadai. Tanpa dukungan infrastruktur dan langkah mitigasi yang tepat, musim kemarau berpotensi menekan produksi pertanian sekaligus memengaruhi stabilitas harga pangan di masyarakat.***



Tinggalkan Balasan