Sebuah Fiksi: Negeri Arkapura dan Kursi-Kursi yang Bergeser

|

Di Negeri Arkapura, orang-orang percaya bahwa kursi adalah benda paling setia.

Kursi akan tetap berada di tempatnya selama pemiliknya menjaga amanah. Namun jika amanah itu retak, kursi akan bergeser sendiri, pelan-pelan, tanpa perlu didorong siapa pun.

Karena itulah warga Arkapura gempar ketika dalam waktu beberapa bulan, kursi-kursi di Balairung Rakyat—lembaga perwakilan rakyat—bergeser satu per satu.

Awalnya hanya satu.

Lalu dua.

Kemudian tiga.

Sampai akhirnya warga mulai menghitung dan bertanya-tanya.

“Ada apa sebenarnya?”

Di warung kopi, di pasar, di pinggiran jalan, bahkan di teras perkumpulan, pembicaraan selalu kembali ke satu hal yang sama.

Pergantian antarwakil.

Orang-orang menyebutnya “Pergeseran Kursi”.

Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kisah panjang di belakangnya.

Beberapa tahun sebelumnya, Balairung Rakyat Arkapura dikenal sebagai tempat yang megah.

Gedungnya berdiri di atas bukit kecil yang menghadap alun-alun negeri. Kubahnya berwarna tembaga keemasan, berkilau setiap kali matahari pagi menyentuhnya.

Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.

Para wakil rakyat datang dengan pakaian terbaik mereka.

Pidato-pidato terdengar indah.

Laporan-laporan tersusun rapi.

Dan rakyat merasa negeri mereka berjalan sebagaimana mestinya.

Sampai suatu hari, para Penjaga Timbangan Negeri mulai menerima laporan yang tampak sepele.

Laporan itu tidak besar.

Tidak menghebohkan.

Bahkan nyaris terlupakan.

Hanya berupa angka-angka yang tidak cocok.

Beberapa tanda tangan yang muncul di tempat yang tak semestinya.

Dan sejumlah dokumen yang jika dibaca sepintas terlihat biasa, tetapi menyimpan kejanggalan bagi mata yang teliti.

Para Penjaga Timbangan—lembaga penuntut hukum yang disegani di Arkapura—tidak terburu-buru.

Mereka menggali perlahan.

Seperti petani yang mencari mata air di bawah tanah.

Sedikit demi sedikit.

Lapis demi lapis.

Bulan berganti bulan.

Musim hujan datang dan pergi.

Sampai akhirnya mereka menemukan sesuatu yang lebih besar daripada dugaan awal.

Sebuah simpul masalah yang ternyata telah lama tersembunyi.

Kabar itu meledak seperti petir di siang hari.

Bukan karena ada keributan.

Bukan pula karena ada penangkapan besar-besaran yang dramatis.

Melainkan karena masyarakat baru menyadari bahwa persoalan yang selama ini dianggap kecil ternyata memiliki cabang yang menjalar ke banyak arah.

Nama-nama mulai disebut.

Bukan oleh para pedagang gosip.

Melainkan dalam berkas resmi yang dibacakan para Penjaga Timbangan.

Setiap perkembangan baru membuat warga semakin penasaran.

Mereka ingin tahu sampai di mana ujung benang kusut itu.

Dan yang paling membuat mereka terkejut adalah dampaknya.

Bukan hanya pada perkara hukum.

Melainkan pada komposisi Balairung Rakyat itu sendiri.

Satu demi satu kursi harus diisi oleh orang baru.

Pergantian antarwakil terjadi.

Mereka yang sebelumnya berada di urutan cadangan dipanggil.

Sebagian datang dengan wajah tegang.

Sebagian datang dengan penuh harapan.

Sebagian lainnya bahkan tidak pernah menyangka akan duduk di kursi itu.

Seorang pedagang buku tua di Pasar Tradisional Tengah Kota pernah berkata kepada cucunya,

“Yang menarik bukan siapa yang pergi.”

“Lalu apa, Kek?” tanya sang cucu.

“Siapa yang datang setelahnya.”

Anak kecil itu tidak langsung mengerti.

Tetapi para orang dewasa yang mendengarnya mengangguk pelan.

Karena memang demikian adanya.

Ketika kursi berganti, harapan ikut berganti.

Setiap wakil baru membawa janji baru.

Membawa cara pandang baru.

Dan membawa kesempatan bagi negeri untuk memperbaiki dirinya.

Namun di sisi lain, masyarakat juga belajar satu hal.

Bahwa sebuah masalah besar jarang muncul dalam semalam.

Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Dari pertanyaan yang tidak dijawab.

Dari laporan yang tidak diperiksa.

Dari kebiasaan yang dianggap lumrah.

Padahal tidak semestinya.

Hari-hari berlalu.

Persidangan berjalan.

Penyelidikan terus berkembang.

Para Penjaga Timbangan bekerja dalam senyap, lebih banyak berbicara melalui berkas daripada pidato.

Sementara itu, Balairung Rakyat perlahan berubah wajah.

Foto-foto lama diturunkan.

Nama-nama baru dipasang.

Kursi-kursi yang kosong kembali terisi.

Tetapi bekas peristiwa itu tidak hilang begitu saja.

Ia menjadi cerita yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Tentang bagaimana sebuah negeri pernah dikejutkan oleh bergesernya banyak kursi sekaligus.

Tentang bagaimana satu perkara yang awalnya dianggap kecil ternyata mampu membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat.

Dan tentang bagaimana hukum, ketika dijalankan dengan sabar dan teliti, dapat mengubah arah sebuah negeri tanpa perlu teriakan.

Pada suatu sore yang tenang, seorang anak bertanya kepada ayahnya yang sedang duduk di tepi alun-alun.

“Ayah, kenapa kursi-kursi itu bisa bergeser?”

Sang ayah menatap Balairung Rakyat yang berdiri kokoh di kejauhan.

Lalu tersenyum.

“Karena kursi sebenarnya tidak pernah bergerak sendiri.”

“Lalu siapa yang menggesernya?”

“Perbuatan manusia.”

Anak itu mengangguk.

Dan di langit Arkapura, matahari perlahan tenggelam di balik kubah tembaga, meninggalkan satu pelajaran yang dipahami semua orang:

Kekuasaan mungkin bisa diwariskan melalui pergantian kursi.

Tetapi kepercayaan rakyat harus diperjuangkan setiap hari. (Redaksi)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran