PURWAKARTA — Kondisi Masjid Agung Baing Yusuf beserta kawasan makam Syekh Baing Yusuf di Kabupaten Purwakarta menjadi sorotan publik. Situs bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan ulama besar dunia, Syekh Nawawi Al-Bantani, itu dinilai kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.
Syekh Baing Yusuf dikenal sebagai salah satu ulama besar asal Purwakarta yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan Islam di Nusantara. Ia diyakini merupakan guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama kharismatik asal Banten yang karya-karyanya hingga kini menjadi rujukan di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam internasional.
Selain Syekh Nawawi Al-Bantani, sejumlah murid Syekh Baing Yusuf lainnya juga dikenal menjadi ulama besar yang berpengaruh dalam dakwah dan pendidikan Islam. Karena itu, keberadaan makam dan masjid peninggalan Syekh Baing Yusuf dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat penting bagi Purwakarta.
Namun, berdasarkan penelusuran awak media, Pemkab Purwakarta disinyalir telah melupakan jasa Syekh Baing Yusuf dengan tidak memberikan anggaran perawatan Masjid Agung Baing Yusuf selama dua tahun berturut-turut.
Pengurus DKM Masjid Agung Baing Yusuf, Ustaz Deden Fauzi, membenarkan bahwa dalam dua tahun terakhir pihaknya tidak lagi menerima dana hibah pemeliharaan dari pemerintah daerah.
“Ari kapungkur mah aya maintenance khusus kanggo satu tahun, dikasih hibah kanggo ngecet sareng pemeliharaan. Biasana tiasa dugi Rp100 juta dina sataun. Tapi ayeuna tos dua taun teu aya margi aya efisiensi,” ujar Ustaz Deden Fauzi saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, penghentian hibah pemeliharaan tersebut cukup berdampak terhadap perawatan fisik bangunan masjid yang membutuhkan biaya besar. Saat ini, pengelola masjid terpaksa mengandalkan dana swadaya dan pemasukan dari kotak amal jemaah untuk melakukan pengecatan maupun pemeliharaan rutin.
Meski demikian, bantuan insentif untuk imam, muadzin, dan khatib Jumat disebut masih berjalan melalui transfer langsung ke rekening masing-masing penerima.
DKM Masjid Agung Baing Yusuf juga telah kembali mengajukan proposal hibah pemeliharaan untuk tahun anggaran 2027, meskipun hingga kini belum ada kepastian terkait realisasinya.
Menjelang Idul Adha 2026, pihak DKM mengungkapkan baru menerima dua ekor domba dari donatur perorangan dan PT Telkom Indonesia. Sementara bantuan hewan kurban dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta masih menunggu kepastian.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap situs bersejarah Syekh Baing Yusuf sebagai bagian dari warisan keislaman dan sejarah Purwakarta yang telah melahirkan tokoh-tokoh ulama besar bertaraf internasional.
Hingga artikel ini diterbitkan awak media masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta terkait alokasi anggaran pemeliharaan Masjid Agung dan makam Syekh Baing Yusuf.***



Tinggalkan Balasan