Suku Bunga BI Naik 50 Bps, INDEF Ingatkan Sektor Riil Bakal Tercekik di Semester II 2026

JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) hingga ke level 5,25 persen dinilai menjadi pisau bermata dua bagi perekonomian domestik.

Langkah agresif ini dinilai krusial untuk membentengi nilai tukar rupiah dan meredam lonjakan inflasi barang impor. Namun, dampak negatifnya diprediksi mulai memukul sektor riil pada paruh kedua tahun ini.

Dikutip dari laman Kontan, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, mengingatkan adanya efek jeda dari kebijakan moneter ketat ini terhadap aktivitas ekonomi warga.

Baca Juga:  Dolar AS Hantam Rupiah hingga Babak Belur, Mata Uang Garuda Nyungsep ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah

“Konsekuensinya, tekanan terhadap sektor riil akan mulai terasa di kuartal II dan cenderung lebih kuat di kuartal III karena transmisi suku bunga ke kredit, konsumsi rumah tangga, dan investasi biasanya memiliki time lag,” ujar Rizal, Kamis (21/5/2026).

Rizal memetakan ada tiga sektor utama yang paling rapuh dan sensitif terhadap kenaikan bunga kredit serta penurunan daya beli masyarakat, yakni properti, otomotif, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Lonjakan bunga pinjaman otomatis membuat konsumen menunda pembelian aset besar seperti rumah dan kendaraan bermotor. Sementara di sisi lain, para pelaku UMKM dipaksa memutar otak akibat membengkaknya biaya modal operasional.

Baca Juga:  IHSG Anomali: Terpuruk ke 6.905 Saat Bursa Global Hijau, Sektor Transportasi Babak Belur

Tantangan pertumbuhan ekonomi tahun ini dinilai semakin berat karena datang bersamaan dengan pelemahan kurs rupiah serta kebijakan pengetatan fiskal dari pemerintah.

Langkah efisiensi belanja kementerian/lembaga (K/L) serta pemangkasan drastis anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp67 triliun—dari alokasi awal Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun dalam APBN 2026—diyakini bakal mengurangi stimulus perputaran uang di masyarakat.

Kombinasi faktor-faktor ini diperkirakan memicu perlambatan momentum ekonomi pada semester II 2026, terlebih karena kuartal II dan III minim momen musiman pendorong konsumsi rumah tangga.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Meroket Rp40 Ribu, Cek Rincian Terbaru Selasa Ini

INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih mampu bertahan di kisaran 5,1 persen hingga 5,3 persen. Namun, pada kuartal III 2026, angka pertumbuhan berisiko merosot ke zona 4,9 persen hingga 5,1 persen jika penyaluran kredit dan daya beli terus layu.

“Artinya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga stabilitas makro, tetapi memastikan kebijakan stabilisasi tidak terlalu menekan pertumbuhan ekonomi domestik,” pungkas Rizal mengenai dilema besar yang dihadapi bank sentral saat ini.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran