JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin tidak berdaya dan terus menunjukkan performa jeblok hingga perdagangan tengah hari.
Mata uang Garuda ambruk ke level Rp17.677 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi transaksi awal pekan, Senin (18/5/2026).
Rapor merah ini mencerminkan koreksi tajam sebesar 0,45 persen jika membandingkannya dengan posisi penutupan bursa pada hari Jumat lalu.
Sesi perdagangan akhir pekan kemarin mencatat nilai tukar rupiah masih sanggup bertahan pada angka Rp17.597 per dolar AS.
Kepanikan pasar global bahkan sempat menyeret jatuh mata uang domestik ke titik nadir paling mengerikan dalam sejarah keuangan nasional.
Berdasarkan grafik perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level terburuk sepanjang masa di angka Rp17.681 per dolar AS pada pukul 10.34 WIB.
Keperkasaan indeks the greenback secara brutal memang sukses menggilas mayoritas mata uang utama di kawasan regional Asia hingga siang ini.
Ringgit Malaysia tercatat menjadi mata uang dengan tingkat kerusakan paling parah di Asia setelah anjlok signifikan sebesar 0,57 persen.
Mengekor di belakangnya, won Korea Selatan dilaporkan ikut ambles 0,45 persen bersama mata uang rupee India yang tertekan 0,33 persen.
Tekanan berat juga memaksa dolar Taiwan terkoreksi 0,3 persen, disusul kejatuhan baht Thailand yang ikut tergelincir sebesar 0,2 persen.
Selanjutnya, yen Jepang harus rela terdepresiasi tipis 0,16 persen beriringan dengan penurunan nilai jual dolar Singapura sebesar 0,05 persen.
Mata uang raksasa ekonomi baru, yuan China, juga terpantau melemah minor 0,02 persen menghadapi gempuran instrumen safe haven AS.
Di tengah badai depresiasi ini, dolar Hong Kong justru tampil perkasa menjadi juara setelah sukses terkerek naik 0,03 persen.
Langkah penguatan tipis juga berhasil diikuti oleh peso Filipina yang mampu berbalik arah dengan mencetak keuntungan minor 0,01 persen.***



Tinggalkan Balasan