ACEH TAMIANG – Air bah memang sudah lama surut dari kawasan Gampong Batang Ara, Kabupaten Aceh Tamiang.
Namun, jejak kehancuran akibat bencana banjir bandang beberapa bulan lalu itu masih menyisakan trauma mendalam bagi warga lokal.
Lumpur mengering masih mengotori halaman, papan kayu tersusun seadanya menjadi dinding rumah, dan pemulihan berjalan sangat lambat.
Di tengah situasi serba darurat, krisis pangan akut diam-diam mengancam kesehatan generasi muda di pelosok desa tersebut.
Bagi Rahayu, istri kepala desa setempat, kengerian banjir bandang itu tidak akan pernah bisa hilang dari ingatannya.
Ia masih mengingat jelas bagaimana bongkahan benda besar menyerupai paus terlihat menonjol dan terombang-ambing di tengah derasnya arus.
Belakangan ia baru menyadari bahwa benda raksasa tersebut ternyata merupakan rumah utuh milik warganya yang hanyut terbawa banjir.
“Kayak paus saya lihatnya, besar di tengah banjir,” ucap Rahayu mengenang detik-detik mencekam itu, Senin (18/5/2026).
Kelaparan hebat memaksa warga Gampong Batang Ara nekat mengonsumsi beras yang telah membusuk akibat terendam air luapan sungai.
Meskipun mengeluarkan aroma menyengat dan berasa hambar, komoditas rusak itu menjadi satu-satunya penyambung nyawa yang tersisa di pengungsian.
“Dicuci, dijemur, tetap dimasak. Tapi rasanya seperti nasi basi. Mau tidak mau tetap dimakan,” kata Rahayu dengan suara bergetar.
Penderitaan paling menyayat hati justru harus ditanggung oleh kelompok balita dan anak-anak akibat putusnya pasokan logistik susu formula.
Sebelum bencana melanda, kebutuhan nutrisi harian anak-anak di wilayah tersebut sebenarnya masih terpenuhi dengan sangat baik tanpa kendala.
Namun pasca-banjir, hancurnya akses transportasi darat memutus total distribusi barang boks susu dari pusat kota menuju wilayah perkampungan.
Rahayu menceritakan perjuangan bertaruh nyawa para orang tua yang nekat menerjang arus air menggunakan sampan kecil demi berburu susu.
Mereka menyusuri warung-warung di desa tetangga, namun mayoritas usaha tersebut berujung nihil karena stok barang sudah habis total.
Demi meredam tangis kelaparan sang buah hati, para ibu terpaksa memutar otak memanfaatkan sisa air rebusan beras (air tajin).
Minuman minim gizi tersebut terpaksa menjadi pengganti susu formula agar lambung anak-anak mereka tidak kosong di tengah pengungsian.
“Namanya anak, kalau tiba-tiba tidak seperti biasanya pasti menangis. Tapi saat itu memang hanya itu yang ada,” ujarnya lirih.
Kini, setelah beberapa bulan berlalu, secercah harapan mulai tumbuh seiring masuknya bantuan logistik dari pemerintah dan relawan.
Aktivitas sosial ekonomi masyarakat Gampong Batang Ara perlahan bergerak, dan asupan nutrisi anak-anak mulai membaik secara bertahap.
Bagi Rahayu, pemulihan pasca-bencana sejati bukan sekadar membangun kembali infrastruktur fisik bangunan rumah warga yang roboh dihantam banjir.
Tugas terberat saat ini adalah menyembuhkan trauma psikologis anak-anak serta mengembalikan stabilitas kesehatan mereka seperti sediakala sebelum bencana datang.
“Pelan-pelan kami jalani lagi. Yang penting sekarang anak-anak sudah mulai bisa makan lebih baik, sudah tidak seperti waktu itu lagi,” ucapnya menutup obrolan.***



Tinggalkan Balasan