Menelusuri Pengembaraan Intelektual Mama Sempur: Kitab Tanbihul Muftarin Ungkap Silsilah hingga Rasulullah SAW

PURWAKARTA – Sosok K.H. Ahmad Bakri atau yang lebih dikenal luas sebagai Mama Sempur, merupakan salah satu pilar utama penyebaran Islam dan keilmuan pesantren di wilayah Purwakarta, Jawa Barat. Namun, di balik kemasyhurannya sebagai ulama pejuang, tidak banyak masyarakat awam yang mengetahui secara detail dokumen autentik terkait garis silsilah (nasab) sang kiai yang tersambung langsung hingga Kesultanan Banten, Walisongo, dan Rasulullah SAW.

Titik terang mengenai otentisitas nasab ini termaktub dalam sebuah dokumen primer berupa risalah lokal berbahasa Sunda dengan aksara Pegon (Jawi) berjudul Tanbihul Muftarin (تَنْبِيْهُ الْمُفْتَرِيْن). Kitab yang ditulis langsung oleh Mama Sempur ini menjadi narasumber sahih yang mengisahkan riwayat pencatatan silsilah tersebut menjelang keberangkatannya ke tanah suci Mekkah pada awal abad ke-20.

Syarat Administrasi Kolonial dan Kejujuran Ulama

Berdasarkan catatan ringkas yang terdapat pada halaman 22 kitab tersebut, Mama Sempur menuliskan bahwa pada tahun 1329 Hijriah (sekitar tahun 1911 Masehi), dirinya diharuskan memiliki dokumen sejarah resmi (sajarah) dari Banten oleh pengurus negeri sebagai syarat sebelum bertolak ke Mekkah.

“Jisim kuring dina samemeh indit ka Mekkah dina tahun 1329 kapaksa kudu boga sajarah ti Banten ku pangurus nagri,” tulis Mama Sempur dalam risalah tersebut dikutip Gugah.co pada Minggu (17/5/2026).

Baca Juga:  DLH Purwakarta ‘Lupa Cara Ngomong’ Jurus Gagu Hadapi Borok Nota Dinas Limbah Makin Bikin Curiga

Dalam proses pelacakan itu, Mama Sempur mencatat sebuah wawancara penting yang menunjukkan tradisi kejujuran akademik dan ketatnya penjagaan nasab di kalangan ulama masa lalu. Ia sempat mendatangi seorang ulama wara di Kadu Merenah bernama Kyai Hamim bin Tasyiq untuk mengonfirmasi silsilah.

Secara jujur, Kyai Hamim menegaskan bahwa dirinya bukanlah keturunan langsung Sultan Maulana Hasanuddin Banten, melainkan keturunan dari Khodimus Shulthon (pelayan/abdi kesultanan) yang berasal dari Kuningan Wetan, Cirebon.

Pencarian tersebut kemudian membuahkan hasil resmi setelah Mama Sempur mendapatkan catatan autentik dari pihak Keraton Banten serta wilayah Kadu Peusing. Catatan resmi itulah yang kemudian disalin dan diabadikan dalam kitab Tanbihul Muftarin.

Garis Silsilah: Dari Sempur hingga Ahlul Bait Yaman

Dokumen historis dalam kitab Tanbihul Muftarin mengurai secara gamblang bahwa jalur keturunan Mama Sempur tersambung kepada penguasa Kesultanan Banten, yakni Sultan Abdul Fattah atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.

Baca Juga:  Promosikan Haji Ilegal di Makkah, Tiga WNI Ditangkap Aparat Arab Saudi

Jika dirunut ke atas berdasarkan teks kitab tersebut, jalur nasab Sultan Ageng Tirtayasa menyambung berturut-turut melalui Sultan Abul Ma’ali Ahmad (Sultan Kenari), Sultan Abul Mafakhir, Sultan Maulana Muhammad (Ing Sabda Kingking), Sultan Maulana Yusuf, hingga sampai pada pendiri Kesultanan Banten, Sultan Maulana Hasanuddin.

Dari Sultan Maulana Hasanuddin, garis keturunan ditarik langsung kepada sang ayah, Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon). Tokoh sentral Walisongo ini merupakan putra dari Syarif Abdullah Umdatuddin, yang garis leluhurnya bermuara pada ulama besar asal Hadramaut (Yaman), Maulana Jamaluddin Al-Akbar (Syekh Jumadil Kubro) dan Amir Abdul Malik Azmatkhan yang pernah berdakwah di India.

Melalui jalur keturunan Azmatkhan dan kaum Alawiyyin (Ba’Alawi) di Yaman, silsilah ini terus bersambung tanpa putus melewati figur-figur agung Ahlul Bait, di antaranya Al-Imam Al-Muhajir ilallah Ahmad, Imam Ja’far Ash-Shadiq, Imam Ali Zainal Abidin, hingga mencapai Sayyidina Husain, putra dari Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Meluruskan Sejarah dan Tawasul

Dalam jurnalisme investigasi sejarah, tujuan penulisan sebuah dokumen masa lalu menjadi poin penting. Melalui kitab Tanbihul Muftarin—yang secara bahasa berarti “Peringatan bagi Orang-orang yang Mengada-ada”—Mama Sempur menegaskan bahwa penulisan silsilah ini bukan untuk ajang kesombongan atau pamer nasab.

Baca Juga:  Tradisi Ilmu dan Ukhuwah: Jangan Lewatkan Ngaos Sasihan di Ponpes Hidayatul Faizien

Mama Sempur menuliskan bahwa silsilah ini sengaja dibukukan agar anak cucunya serta kaum muslimin yang menghendaki, dapat dengan mudah mengirimkan hadiah pahala (seperti membaca Surat Al-Ikhlas/Qulhu) serta melakukan tawasul demi mengharapkan keberkahan dari para ahlul bait dan ulama-ulama terdahulu, termasuk menyertakan silsilah Sultan Banten yang berujung pada rajanya para wali, Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani.

Keberadaan kitab Tanbihul Muftarin ini menjadi bukti autentik berharga bagi sejarah Islam di Jawa Barat. Dokumen ini tidak hanya menegaskan posisi Mama Sempur Purwakarta sebagai bagian dari keturunan ahlul bait, tetapi juga menjadi preseden penting bagaimana para ulama Nusantara terdahulu sangat ketat, jujur, dan berhati-hati dalam menjaga catatan sejarah dan asal-usul mereka.***

Dokumen Pendukung:

Disclaimer: Jika terdapat perbedaan data atau sejarah, hal tersebut murni karena perbedaan referensi. Mohon gunakan informasi ini secara bijak sebagai referensi tambahan.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran