Mama Sempur: Sosok Guru Peradaban dan Warisan yang Tak Pernah Mati

Di bawah langit Purwakarta yang menyimpan ribuan kisah santri, nama Mama Sempur atau Syekh Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Sayyida bergema melampaui sekat waktu sebagai sebuah institusi spiritual yang tak tergoyahkan. Sosoknya bukan sekadar nama besar dalam catatan sejarah Islam di Jawa Barat, melainkan sebuah mercusuar ilmu yang sinarnya tetap benderang meski zaman telah berganti rupa.

Sejak memulai langkah dakwahnya secara formal pada tahun 1911 hingga masa keemasan karyanya di tahun 1959, pengaruh Mama Sempur dalam menyebarkan pemahaman keislaman begitu dalam menghujam ke ruang hati masyarakat, menciptakan sebuah ekosistem keilmuan yang kemudian diteruskan secara estafet oleh keluarga serta para santrinya yang kini tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Ketajaman pemikiran beliau tidak hanya tersimpan dalam ingatan kolektif, tetapi termanifestasi secara abadi melalui deretan karya literasi yang hingga kini masih menjadi rujukan utama di berbagai pondok pesantren melalui tulisan-tulisan yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam.

Baca Juga:  Sebelum Berangkat Kemenhaj Purwakarta Periksa Ratusan Koper Milik Jemaah Haji

Salah satu mahakaryanya, Cempaka Dilaga, menyajikan pandangan visioner tentang etos kerja dan kemandirian ekonomi, menegaskan bahwa seorang Muslim memiliki kewajiban untuk mencari nafkah yang halal dan dilarang keras menjadi pemalas yang hanya bergantung pada pemberian orang lain.

Saif ad-Dlarib atau Sang Pedang yang Menangkis yang lahir sejak tahun 1922 berdiri kokoh sebagai benteng akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sementara Maslakul Muttaqin menjadi kompas lembut yang membimbing pembaca menuju jalan ketakwaan melalui perbaikan hubungan antara makhluk dengan Sang Pencipta.

Baca Juga:  Kemenag Dorong Transformasi Pesantren Ramah Anak: Adopsi Praktik Baik dari Lirboyo hingga As’adiyah

Keistimewaan warisan Mama Sempur terletak pada kemampuannya menyederhanakan doktrin agama ke dalam realita sosial yang paling praktis melalui kitab-kitab seperti Risalah al-I’tiqad yang memperkuat dasar keyakinan masyarakat pedesaan hingga Tanbihul Muhtariin yang berfungsi sebagai pengingat bagi mereka yang mulai terlena oleh fana dunia.

Beliau juga meninggalkan jejak intelektual lainnya seperti Fathul Mubid yang mengupas tuntas hukum fikih, Taqribul Ikhwan yang mengajarkan seni bersaudara, hingga Risalah Munajat yang menuntun jemaah dalam setiap zikir dan doa. Karya-karya ini membuktikan bahwa dakwah beliau tidak hanya terbatas pada mimbar, melainkan melalui goresan pena yang menjawab keresahan umat, terutama bagi mereka yang sering kali terhimpit oleh persoalan ekonomi dan sosial.

Baca Juga:  Puncak Perempuan Inspiratif Purwakarta 2026: Dari Voting Daring hingga Gebrakan ‘Kartini Goes to School’

Meski sang ulama kharismatik telah berpulang ke haribaan Sang Khalik pada tahun 1975, Maqbaroh Mama Sempur yang terletak di Desa Sempur, Kecamatan Plered – Purwakarta, seolah menjadi magnet spiritual yang tak pernah sepi dari langkah kaki manusia.

Memasuki tahun 2026 yang menandai peringatan ke-51 Haul Mama Sempur, gelombang peziarah dari berbagai daerah kian mengalir deras menuju tanah Plered sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau.

Puncak peringatan haul yang akan dilaksanakan pada Minggu, 17 Mei 2026, diprediksi akan menjadi momentum syahdu di mana ribuan jiwa kembali berkumpul untuk membasuh dahaga spiritual sekaligus merayakan warisan seorang guru peradaban yang cahaya ilmunya tetap hidup, mengalir, dan tak pernah mati di hati para pecintanya.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *