Ketua IPPNU Garut Dorong Ruang Aman Pelajar Lewat “Mind Matters”, Perkuat Keberanian Bercerita dan Kesehatan Mental Remaja

GARUT — Ketua IPPNU Kabupaten Garut, Rahma Nurwahidah menegaskan pentingnya menghadirkan ruang aman bagi remaja untuk bercerita, berekspresi, dan menjaga kesehatan mental melalui kegiatan Mind Matters – Ruang Diskusi Pelajar bertema “Bersuara, Bercerita, Merawat Perdamaian” yang digelar di Aula Lantai 3 PCNU Kabupaten Garut, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Lembaga Konseling IPPNU Kabupaten Garut bersama AMAN Indonesia dan Keppak Perempuan. Peserta berasal dari SMKN 1 Garut, SMKN 2 Garut, dan SMKN 3 Garut.

Pelatihan menghadirkan narasumber Ihah Solihah yang membahas pentingnya komunikasi sehat, keberanian menyampaikan pendapat, hingga upaya membangun perdamaian di kalangan pelajar.

Ketua pelaksana, Hilsa Pramesti mengatakan, kegiatan tersebut diadakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi remaja yang membutuhkan ruang aman untuk didengar dan dipahami di tengah maraknya persoalan sosial, perbedaan pendapat, hingga kasus perundungan.

Baca Juga:  Dewan Anton Warning SPBE Cimuning Soal Ganti Rugi, Kasus Bisa Berujung Pidana

“Kami ingin menghadirkan ruang yang membuat pelajar merasa aman untuk menyampaikan cerita, pengalaman, dan pandangannya tanpa takut dihakimi,” ujarnya.

Sementara itu, Rahma Nurwahidah berharap kegiatan tersebut mampu menjadi wadah bagi remaja untuk lebih berani berbicara mengenai persoalan yang mereka hadapi, sekaligus menjadi ruang ekspresi yang sehat bagi pelajar.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan ruang bercerita dan ruang ekspresi bagi remaja tentang bagaimana kondisi mereka sebenarnya. Karena sering kali anak muda membutuhkan tempat untuk didengar, bukan hanya dinilai,” kata Rahma.

Baca Juga:  Nobar “Menolak Punah”, IPPNU Garut Soroti Krisis Limbah Fashion dan Peran Perempuan

Ia menegaskan, IPPNU Kabupaten Garut memiliki peran penting sebagai wadah pendampingan pelajar, khususnya dalam membangun keberanian bercerita serta meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental di kalangan remaja.

Menurutnya, persoalan mental health di lingkungan pelajar tidak bisa dianggap sepele, terlebih di tengah pengaruh media sosial dan penggunaan gadget yang semakin tinggi. Karena itu, pendekatan yang humanis dan penuh empati dinilai menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Selain membangun kesadaran di lingkungan sekolah formal, Rahma juga mengungkapkan adanya rencana pengembangan program ke depan dengan menyasar lingkungan pendidikan nonformal, termasuk pesantren-pesantren di daerah yang masih minim akses terhadap edukasi dan perlindungan remaja.

Baca Juga:  Usai Terima SK DPP, PDIP Kota Bekasi Diminta Tekan Angka Kemiskinan

“Ke depan kami ingin menggarap bukan hanya sekolah formal, tetapi juga pesantren-pesantren yang cukup jauh dari akses pemerintah, khususnya terkait perlindungan dan pendampingan remaja,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut juga dihadiri guru dari SMKN 2 Garut, Musthofa. Ia menilai kegiatan seperti ini penting untuk membentuk karakter pelajar agar lebih baik, meningkatkan wawasan, serta membangun kesadaran sosial dan spiritual di tengah tantangan era digital.

“Adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Anak-anak juga perlu memahami dampak penggunaan gadget secara berlebihan, termasuk persoalan bullying di lingkungan remaja,” ujarnya.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran