DENPASAR – Pesan perdamaian dunia kembali digaungkan dari tanah air melalui gelaran Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026. Sebanyak 50 Bhikkhu (biksu) dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia akan menempuh perjalanan spiritual sejauh kurang lebih 500 kilometer dengan berjalan kaki, dimulai dari Pulau Dewata menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Kegiatan internasional yang digelar dalam rangka menyambut perayaan Waisak 2570 BE ini dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei hingga puncaknya pada 5 Juni 2026. Aksi ini menjadi simbol kuat persatuan, welas asih, dan harmoni di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Sinergi Ansor, Pecalang, dan Aparat untuk Harmoni Nusantara
Momentum ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat Bali. Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan, menegaskan keterlibatan Banser sebagai wujud nyata moderasi beragama dan persaudaraan kemanusiaan.
“Kami merasa terhormat bisa berjalan bersama Pecalang dan aparat keamanan. Ini bukan sekadar pengamanan, tetapi simbol persatuan masyarakat Bali yang inklusif. Perdamaian bisa disebarkan melalui laku spiritual yang tulus,” ujar Tommy.
Senada dengan hal tersebut, Manggala Utama Pecalang Bali, Dewa Bagus Made Suharya, menyatakan kesiapannya mengawal para Bhikkhu hingga Pelabuhan Gilimanuk. “Dari Bali, pesan damai dunia dimulai. Kami mengajak masyarakat untuk ikut menghormati perjalanan ini, bahkan dengan hal sederhana seperti menyediakan air di sepanjang rute,” ungkapnya.
Lebih dari Ritual: Momen Kebangsaan dan Pariwisata Nilai
Koordinator IWFP 2026 Wilayah Bali, Romo Sudiarta Indrajaya, menekankan bahwa perjalanan selama 21 hari ini melampaui batas ritual keagamaan. “Ini bukan hanya momen agama, ini momen Indonesia. Sejak ratusan tahun lalu, Bali sudah menunjukkan harmoni lintas keyakinan, seperti yang tercermin di Pura Gambur Anglayang,” jelasnya.
Dari sisi strategis pariwisata, Ketua DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha, menilai IWFP 2026 memperkuat citra pariwisata berbasis nilai (value-based tourism). Bali tidak hanya dipandang sebagai destinasi alam, tetapi juga sebagai pusat spiritualitas dunia.
Menuju Puncak di Candi Borobudur
Para Bhikkhu yang terlibat memiliki rentang usia produktif hingga senior (23–67 tahun), menunjukkan bahwa semangat damai tidak mengenal batas generasi. Rute ini akan berakhir di kawasan suci Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu pada akhir Mei, yang menjadi simbol keterhubungan sejarah dan budaya Nusantara.
Pembukaan acara ini turut dihadiri dan didukung oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Menteri Agama RI Muhammad Syaifi dan Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Supriyadi, serta didukung oleh organisasi nasional seperti Walubi dan Permabudhi.
Di tengah dunia yang kerap diliputi konflik, langkah kaki para Bhikkhu ini menjadi pesan sunyi namun kuat: bahwa perdamaian bisa dimulai dari langkah sederhana, dari Bali, untuk Indonesia, dan untuk dunia.***



Tinggalkan Balasan