Ekonomi Jabar Tumbuh, tetapi 3,44 Juta Warga Masih Miskin dan 1,79 Juta Menganggur

|

gugah.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah tersebut masih terjaga hingga Triwulan III 2026. Kondisi itu ditopang oleh kinerja perbankan, likuiditas, serta permodalan yang dinilai masih memadai.

Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, mengatakan kinerja intermediasi perbankan di Jawa Barat masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global maupun domestik.

“Stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Barat tetap terjaga stabil dengan likuiditas yang memadai serta permodalan yang kuat untuk mendukung ekspansi pembiayaan daerah,” ujar Darwisman, Senin (2/11/2026).

Meski demikian, kondisi sektor keuangan tersebut perlu dilihat bersama sejumlah indikator sosial dan ekonomi yang masih menjadi tantangan bagi Jawa Barat.

Baca Juga:  IHSG Dibuka Anjlok 4,31 Persen, Sentimen MSCI hingga Gejolak Global Masih Membayangi

Berdasarkan data yang disampaikan OJK, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 51,16 juta jiwa pada Februari 2026. Besarnya populasi tersebut menjadi potensi pasar domestik bagi sektor industri pengolahan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor produktif lainnya.

Namun, persoalan ketenagakerjaan dan kemiskinan masih membutuhkan perhatian. Data yang dicantumkan menunjukkan jumlah pengangguran di Jawa Barat pada Mei 2026 mencapai 1,79 juta orang atau 6,61 persen.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebanyak 3,44 juta orang atau 6,54 persen.

Baca Juga:  Ketua PWNU Jabar Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah

Dari sisi pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat pada 2025 mencapai 75,90. Adapun rasio Gini pada Maret 2026 turun 0,003 poin menjadi 0,413. Angka tersebut menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat yang masih perlu menjadi perhatian.

Di sektor kesehatan, prevalensi stunting di Jawa Barat dilaporkan turun dari 21,7 persen pada 2023 menjadi 15,9 persen pada 2024.

Sementara itu, inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) Jawa Barat pada September 2026 tercatat sebesar 3,16 persen. Angka ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah kebutuhan rumah tangga dan dinamika harga barang pokok.

Baca Juga:  Kala Dedi Mulyadi Minta Nikah Sederhana, Ternyata Industri Event Pernah jadi Pahlawan Ekonomi

OJK Jawa Barat menyatakan akan terus mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM dan sektor produktif lainnya, untuk mendukung aktivitas ekonomi daerah.

Darwisman mengatakan pihaknya juga akan memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan optimal.

“Kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan fungsi intermediasi perbankan berjalan optimal, sehingga mampu memberikan multiplier effect nyata bagi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat,” katanya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran