Refleksi Sumpah Pemuda dari Rekam Jejak Kewirausahaan H. Purnomo

|

Setiap peringatan Sumpah Pemuda, ruang-ruang publik dipenuhi ajakan agar generasi muda menjadi motor pembangunan. Namun, di balik semangat itu, tantangan yang dihadapi anak muda masih relatif sama: keterbatasan lapangan pekerjaan, sulitnya akses permodalan, hingga ekosistem usaha yang belum sepenuhnya berpihak kepada pelaku usaha baru.

Di Kabupaten Indramayu, yang tengah bersiap memasuki usia ke-499 tahun, tantangan tersebut menjadi bagian dari dinamika pembangunan daerah. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional sekaligus wilayah dengan potensi industri pesisir yang besar, Indramayu menyimpan peluang ekonomi yang luas. Namun, potensi itu belum selalu berbanding lurus dengan terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakatnya.

Di tengah lanskap tersebut, nama H. Purnomo, S.Sos. menjadi salah satu sosok yang menarik untuk disimak. Perjalanan usahanya menunjukkan bagaimana kewirausahaan dapat menjadi salah satu jalan untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka ruang bagi pemberdayaan masyarakat.

Purnomo memulai usahanya dari bawah bersama sang istri, Hj. Alfiyah. Berbekal keberanian membaca peluang dan konsistensi membangun usaha, ia mengembangkan bisnis yang kemudian tumbuh di berbagai sektor. Melalui PT Taruna Karya Utama dengan merek Taruna Beton, usahanya berkembang ke bidang jasa konstruksi melalui PT Waskita Jaya Purnama, sektor pertambangan melalui PT Muara Jati, energi melalui PT Alam Purnama, hingga bisnis kuliner yang dikenal dengan jaringan Cooler City.

Baca Juga:  Expo Muktamar ke-35 NU Siapkan 1.300 Stan UMKM

Ekspansi tersebut tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ia dibangun melalui proses panjang, pengambilan risiko, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dunia usaha. Dari satu bidang usaha, Purnomo perlahan membangun jejaring bisnis yang saling mendukung dan menciptakan rantai nilai yang lebih luas.

Aktivitasnya juga tidak berhenti di dunia bisnis. Purnomo dipercaya sebagai Dewan Pembina BPC HIPMI Indramayu dan menjabat sebagai Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Barat. Kedua posisi tersebut mempertemukannya dengan berbagai agenda pengembangan ekonomi daerah, pemberdayaan pelaku usaha, serta penguatan kewirausahaan di kalangan generasi muda dan warga Nahdliyin.

Bagi Purnomo, berwirausaha tidak semata-mata berbicara tentang keuntungan perusahaan. Sebagai pengusaha yang tumbuh dari lingkungan Nahdlatul Ulama, ia memandang usaha sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat yang lebih luas. Bisnis, menurutnya, dapat menjadi sarana menciptakan lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, sekaligus menghadirkan keberlanjutan ekonomi.

Baca Juga:  HIPMI Indramayu Siap Gelar Muscab XVI, Ini Tahapannya

Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai kesempatan ketika ia menekankan pentingnya menciptakan iklim usaha yang sehat. Ia melihat kepastian regulasi, kemudahan perizinan, dan birokrasi yang efisien sebagai prasyarat agar investasi mampu tumbuh dan memberi dampak nyata bagi daerah. Dalam perspektifnya, investasi akan lebih bermakna apabila mampu melibatkan pelaku usaha lokal, memperkuat UMKM, dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Di momen refleksi Sumpah Pemuda, perjalanan Purnomo menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Semangat kepemudaan tidak hanya diwujudkan melalui retorika atau gagasan besar, tetapi juga melalui keberanian membangun usaha, mengambil risiko, dan menciptakan peluang bagi orang lain. Kemandirian ekonomi menjadi bagian penting dari upaya membangun daerah.

Baca Juga:  Jangan Larang Vapenya, Ubah Model Bisnisnya

Di balik berbagai aktivitas bisnis dan organisasinya, Purnomo juga berusaha menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga, kepemimpinan organisasi, dan profesionalisme dalam mengelola perusahaan. Baginya, ketangguhan, disiplin, serta kemampuan membaca peluang merupakan modal yang harus terus dipupuk oleh setiap wirausahawan.

Menjelang usia lima abad, Indramayu memiliki modal besar berupa sumber daya alam, letak geografis yang strategis, dan bonus demografi. Potensi tersebut membutuhkan semakin banyak pelaku usaha yang berani mengembangkan sektor-sektor produktif sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Dalam konteks itulah, rekam jejak H. Purnomo menawarkan sebuah pelajaran. Bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keberanian individu-individu yang memilih membangun usaha, menciptakan nilai tambah, dan membuka kesempatan bagi orang lain untuk tumbuh bersama. Di tengah semangat Sumpah Pemuda, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa salah satu bentuk nyata cinta kepada tanah kelahiran adalah menghadirkan manfaat melalui karya dan kemandirian ekonomi.

Oleh: Ahmad Rifai

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran