SUMPAH PEMUDA: Pemuda-Pemudi Kudu Berdikari

|

KALAU dengar kata Sumpah Pemuda, jangan keburu kebayang upacara, jas rapi, atau pidato yang bikin ngantuk. Hehe.

Sumpah Pemuda itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Dulu, anak-anak muda dari berbagai daerah berani bilang, “Kita satu Indonesia.” Padahal zamannya belum ada grup WhatsApp, belum ada Zoom, apalagi “share location”. Tapi mereka bisa kompak.

Nah, kita yang hidup di zaman serba cepat ini masa iya kalah semangat?

Buat saya, salah satu cara merayakan Sumpah Pemuda hari ini adalah dengan berdikari. Bahasa gampangnya, belajar berdiri di atas kaki sendiri. Syukur-syukur bukan di atas kaki orang lain. Hehe.

Baca Juga:  Ketika Eropa Membara: Krisis Biaya Hidup, Amarah Rakyat, dan Ujian bagi Demokrasi Liberal

Berdikari bukan berarti harus langsung sukses, punya usaha besar, atau rekeningnya penuh nol. Berdikari itu berani mulai. Berani belajar. Berani gagal. Terus bangun lagi. Karena yang bikin kita berkembang bukan hidup yang selalu mulus, tapi kemauan untuk terus melangkah.

Jangan terlalu sibuk membandingkan hidup dengan orang lain. Di media sosial, semua orang kelihatannya sukses. Padahal, siapa tahu setelah upload foto langsung buka aplikasi pinjol. Ya kan? Jadi fokus saja sama perjalanan kita sendiri.

Baca Juga:  Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Legislatif

Indonesia ke depan butuh lebih banyak pemuda yang mau berkarya daripada sekadar banyak komentar. Yang lebih senang mencari solusi daripada menyalahkan keadaan. Yang kalau jatuh, bukan cari kambing hitam, tapi cari cara buat bangkit lagi.

Kalau setiap anak muda mau terus belajar, bekerja dengan jujur, saling membantu, dan berani mengambil tanggung jawab, saya yakin Indonesia akan melangkah lebih jauh.

Baca Juga:  Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Ditumbalkeun atawa Numbalkeun Sorangan?

Karena sejatinya, Sumpah Pemuda bukan cuma untuk dikenang setiap 28 Oktober. Tapi untuk dijalani setiap hari.

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Pemuda-pemudi kudu berdikari. Bukan karena semuanya harus sendirian, tapi karena bangsa ini butuh lebih banyak anak muda yang siap menjadi bagian dari solusi.

Kalau kata orang sekarang, “Gas secukupnya, konsisten sebanyak-banyaknya.” Itu jauh lebih keren daripada semangat yang cuma ramai pas tanggal merah.

Oleh: Reza Arfah – Penulis adalah Civil Society, Wakil Keua PP Pemuda Muhammadiyah

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran