Dua Buruh Harian Tewas Diserang Puluhan Orang di Pasar Caringin Bandung

|

GUGAH – Perselisihan yang diduga bermula dari tuduhan pencurian bawang berujung maut di Pasar Caringin, Kota Bandung, Jawa Barat. Dua buruh harian meninggal dunia dan seorang lainnya mengalami luka serius setelah diserang sekelompok orang pada Sabtu (24/10/2026) sore.

Peristiwa tersebut menyisakan duka bagi keluarga korban sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana perselisihan yang disebut sempat diselesaikan melalui mediasi justru berkembang menjadi kekerasan mematikan.

Dua korban meninggal dunia diketahui bernama Fikri Ramadhan (22) dan Tisna (37). Sementara itu, Agus Safari (34) mengalami luka berat hingga salah satu jarinya putus.

Ayah Fikri, Nandang Johari (46), membenarkan jumlah korban ketika ditemui di rumah sakit saat hendak melihat jenazah anaknya, Senin (26/10/2026).

“Yang meninggal dua, yang luka-luka satu,” ujar Nandang.

Menurut keterangan keluarga, Fikri meninggal di lokasi kejadian setelah diserang sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah sekitar 30 orang.

Fikri mengalami sejumlah luka akibat senjata tajam. Nandang menyebut salah satu luka tusuk yang dialami anaknya menembus hingga bagian jantung. Luka lainnya ditemukan di bagian dada hingga kaki.

Baca Juga:  205 Ribu Warga Jabar Terdampak Kekeringan, Bekasi, Bogor, dan Karawang Terparah

Sementara itu, Tisna yang sebelumnya dilaporkan dalam kondisi kritis akhirnya meninggal dunia. Ia mengalami luka di bagian belakang kepala serta sejumlah luka lain di punggung hingga paha yang diduga akibat senjata tajam.

Polisi Sebut Berawal dari Dugaan Pencurian Bawang

Kapolsek Babakan Ciparay AKP Kardi mengatakan, berdasarkan penyelidikan sementara, peristiwa tersebut diduga bermula dari kesalahpahaman antara tukang parkir dan kuli panggul yang beraktivitas di kawasan Pasar Caringin.

Perselisihan muncul setelah seorang tukang parkir dicurigai mencuri bawang. Namun, dugaan pencurian tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Awalnya ini ada kesalahpahaman antara tukang parkir dan kuli panggul. Tukang parkir dikira nyuri bawang,” kata Kardi.

Menurut Kardi, pihak-pihak yang berselisih sebenarnya telah menjalani mediasi dan sempat mencapai perdamaian.

Namun, persoalan kembali memanas hingga berujung pada penyerangan yang merenggut nyawa korban.

Baca Juga:  IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Bidik Level Psikologis 6.000

“Sudah sempat berdamai, tapi ada kesalahpahaman lagi lah,” ujarnya.

Kardi menyebut para pihak yang terlibat perselisihan telah saling mengenal karena sama-sama beraktivitas di lingkungan pasar dalam waktu cukup lama.

Meski demikian, polisi masih perlu mengungkap secara menyeluruh rangkaian peristiwa, pihak yang memulai kekerasan, serta peran masing-masing orang yang diduga terlibat dalam penyerangan.

Keluarga Luruskan Pekerjaan Korban

Di tengah berkembangnya informasi mengenai peristiwa tersebut, Nandang membantah kabar yang menyebut anaknya bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Caringin.

Ia menegaskan Fikri merupakan buruh harian yang bekerja mengangkat meja dagangan di kawasan pasar tumpah Blok B-2 Pasar Caringin.

Menurut Nandang, pekerjaan serupa juga dijalani korban lainnya.

Keterangan keluarga ini penting untuk membedakan identitas dan pekerjaan korban dengan pihak-pihak yang disebut terlibat dalam perselisihan awal.

Hingga kini, belum ada penjelasan lengkap mengenai bagaimana Fikri dan dua korban lainnya menjadi sasaran penyerangan, termasuk apakah mereka terlibat langsung dalam perselisihan yang diduga menjadi pemicu kejadian.

Baca Juga:  Sempat Cekcok, Seorang Pria di Bandung Ditemukan Tak Bernyawa

Polisi Buru Terduga Pelaku

Polisi menyatakan telah mengantongi identitas sejumlah orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.

Kardi mengatakan petugas masih melakukan pengejaran terhadap para terduga pelaku.

“Kalau tersangka sudah ada dalam tahap pengejaran, inisialnya kita sudah ada,” katanya.

Namun, jumlah orang yang telah teridentifikasi, peran masing-masing, serta perkembangan penanganan perkara belum dijelaskan secara terperinci dalam keterangan yang tersedia.

Kematian dua buruh harian ini menuntut pengusutan yang menyeluruh dan transparan. Selain mengungkap pelaku kekerasan, penyidik perlu memastikan duduk perkara sebenarnya agar dugaan kesalahpahaman tidak menutupi tanggung jawab pidana pihak-pihak yang terlibat.

Peristiwa di Pasar Caringin juga menjadi pengingat bahwa tuduhan yang belum terbukti tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan.

Bagi keluarga korban, pengungkapan perkara secara tuntas menjadi bagian penting dari upaya memperoleh keadilan atas hilangnya nyawa orang-orang yang sehari-hari bekerja mencari nafkah di pasar tersebut.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran