Hujan Datang Membawa Berkah, Lumpur Mengingatkan Kewajiban

|

Tik. Tik. Tik.

​Titisan itu berganti menjadi rinai, lalu berubah menjadi guyuran deras yang membasahi bumi. Suara gemuruh air yang menghantam atap seng dan tanah kering menggema di seluruh desa, seperti simfoni kehidupan yang baru.

Hujan penghujung Oktober menandai peralihan musim yang dinanti-nanti. Setelah berbulan-bulan merasakan teriknya matahari dan udara yang kering, akhirnya awan mendung datang membawa berkah. Guyuran air langit disambut luas dengan sukacita dan rasa syukur yang tulus di sepanjang nusantara.

Hujan membawa banyak kebaikan. Menyegarkan udara yang berdebu dan panas. Mengisi kembali sumber air yang sempat menyusut. Membantu memadamkan titik api kebakaran hutan dan lahan dan menghidupkan kembali tanaman dan lahan pertanian.

Baca Juga:  Dimana Relawan Saat Om Zein Diterpa Polemik?

Rasa lega itu wajar, kemarau kali ini terasa panjang dan berat. Namun di tengah sukacita, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama.

Hujan selalu datang dengan dua sisi. Ia berkah, namun juga ujian. Ketika air turun deras, ia membawa serta tanah, sampah, dan segala yang ada di perjalanannya. Lumpur yang muncul bukan sekadar gangguan, ia adalah cermin dari apa yang kita tinggalkan di daratan.

Saluran air yang tersumbat, lahan yang kehilangan pepohonan, dan tumpukan sampah yang belum tertangani dengan baik, semuanya akan terbawa ketika hujan turun.

Baca Juga:  Hakikat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81: Kesetaraan, Perubahan, dan Pengabdian melalui Pendidikan

Pemerintah dan pihak berwenang telah mengingatkan: waspadai potensi cuaca ekstrem, genangan air, hingga banjir mendadak. Namun kesiapan tidak hanya berada di pundak pemerintah saja.

“Sudahkah kita berdamai dengan lumpur?” Pertanyaan ini bukan bermaksud menyalahkan hujan, melainkan mengajak kita jujur pada diri sendiri.

Apakah selokan di lingkungan kita sudah bersih dari sampah? Apakah kita sudah membuang sampah pada tempatnya, bukan ke sungai Apakah ada lahan kosong yang bisa kita tanami agar tanah tidak mudah tergerus air? Dan apakah kita siap mengevakuasi barang berharga jika air mulai naik?

Baca Juga:  Refleksi Hari Santri 2026: Menautkan Nalar Kebangsaan, Krisis Ekologis, dan Dinamika Ekonomi Modern

Hujan adalah anugerah Tuhan yang tidak boleh kita tolak. Lumpur yang datang bersama hujan adalah pengingat: alam selalu berbicara, dan pesannya sederhana, jaga bumi, maka bumi akan menjagamu.

Mari sambut hujan dengan hati yang syukur sekaligus tangan yang bekerja. Bersihkan lingkungan, siaga terhadap risiko, dan saling jaga antar tetangga. Karena ketika langit menurunkan air, kesiapan kita adalah perlindungan terbaik bagi keluarga dan sesama. (redaksi)

 

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran