Beda Sikap dengan Trump soal Netanyahu, JD Vance Pilih Tak Ikut Campur Pemilu Israel

|

GUGAH – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memilih tidak memberikan dukungan terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Sikap tersebut berbeda dari Presiden Donald Trump yang lebih dahulu menyatakan dukungan penuh kepada Netanyahu, sekaligus memperlihatkan perbedaan pendekatan keduanya dalam menyikapi kontestasi politik di Israel.

Dalam wawancara bersama jurnalis Mark Halperin pada Senin (19/10/2026), Vance menegaskan bahwa perhatiannya saat ini tertuju pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Ia memilih tidak terlibat dalam persaingan politik negara lain, meskipun Trump telah menyatakan dukungannya kepada pemimpin Partai Likud tersebut. Sikap Vance itu diberitakan oleh Associated Press.

“Saya tidak menentang dukungan terhadap dirinya. Saya juga tidak mendukung aksi untuk mendukungnya. Saya tidak ikut campur dalam pemilihan umum Israel,” kata Vance dalam wawancara tersebut. Ia kemudian menegaskan bahwa dirinya lebih berfokus mendukung kandidat-kandidat Amerika Serikat dalam pemilu paruh waktu mendatang.

Keputusan Vance untuk menjaga jarak dari pemilu Israel menjadi perhatian karena sebelumnya ia pernah secara terbuka mendukung pemimpin asing. Pada April 2026, Vance melakukan kunjungan ke Hungaria untuk mendukung Viktor Orban, yang saat itu masih menjabat sebagai perdana menteri. Namun, Orban dan partainya kemudian kalah dalam pemilihan umum dari kubu yang dipimpin Peter Magyar.

Baca Juga:  Karawang Dinilai Semakin Menarik bagi Pengemis dan Pemulung dari Luar Daerah

Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar yang membuat sikap Vance kali ini menarik untuk dicermati. Meski demikian, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa kekalahan Orban menjadi alasan langsung Vance tidak mendukung Netanyahu. Dalam pernyataannya, Vance justru menekankan fokus pada pemilu domestik Amerika Serikat.

Di dalam Partai Republik, kebijakan Amerika Serikat terhadap Israel juga menjadi bagian dari perdebatan politik yang lebih luas. Dukungan Washington terhadap Israel, termasuk kerja sama keamanan dan bantuan militer, terus menjadi bahan diskusi di tengah perbedaan pandangan mengenai kebijakan luar negeri AS dan kepentingan domestiknya.

Karena itu, sikap Vance tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai penolakan terhadap hubungan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataannya lebih jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin secara terbuka mengambil posisi dalam pemilihan pemimpin Israel.

Baca Juga:  Perkuat Sinergi Pelayanan Publik, Pemkot Tangerang Serahkan Hibah Gedung Parkir Mako Polres Metro Tangerang Kota

Trump Berikan Dukungan Terbuka kepada Netanyahu

Berbeda dengan Vance, Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu menjelang pemungutan suara. Dalam pernyataannya pada 18 Oktober 2026, Trump memuji kepemimpinan Netanyahu dan hubungan kedua negara, terutama dalam menghadapi Iran.

Dukungan tersebut memperlihatkan kedekatan politik Trump dengan Netanyahu. Selama masa kepemimpinannya, Trump mengambil sejumlah kebijakan yang sejalan dengan kepentingan pemerintah Israel, antara lain memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

Namun, dukungan dari seorang pemimpin asing tidak otomatis menentukan hasil pemilu. Pemilih Israel tetap mempertimbangkan berbagai persoalan domestik, termasuk keamanan, ekonomi, kepemimpinan pemerintahan, dan arah kebijakan negara.

Yashar dan Likud Bersaing Menjelang Pemungutan Suara

Persaingan menjelang pemilu Israel juga menarik perhatian karena sejumlah jajak pendapat menempatkan Yashar, partai yang dipimpin mantan kepala staf militer Gadi Eisenkot, di atas Likud dalam proyeksi perolehan kursi parlemen. Meski demikian, angka jajak pendapat dapat berubah dan tidak secara langsung memastikan siapa yang akan membentuk pemerintahan.

Baca Juga:  Kartini Digital, Menteri PPPA Ajak Perempuan Tak Sekadar Jadi Penonton Teknologi

Sistem parlementer Israel membuat perolehan kursi menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penentu. Pembentukan pemerintahan membutuhkan dukungan mayoritas di Knesset, sehingga kemampuan partai-partai membangun koalisi juga berperan besar setelah pemilu.

Menjelang pemungutan suara 27 Oktober, sikap Trump dan Vance menjadi bagian dari dinamika hubungan politik Amerika Serikat dengan Israel. Trump memilih memberikan dukungan terbuka kepada Netanyahu, sedangkan Vance mengambil posisi tidak ikut campur dalam pemilu tersebut.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel tidak selalu diwujudkan melalui langkah politik yang sama di kalangan pemimpin Amerika Serikat. Namun, apakah dukungan Trump akan berpengaruh terhadap hasil pemilu tetap bergantung pada pilihan pemilih Israel dan konfigurasi koalisi setelah penghitungan suara.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran