GUGAH – Kesempatan kembali mengenyam pendidikan mengubah arah kehidupan Raihan (16), siswa SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Kabupaten Garut. Setelah sempat putus sekolah, remaja asal Kecamatan Limbangan itu kini mulai mengenal pemrograman (coding) dan bercita-cita menjadi seorang programmer.
Raihan merupakan siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 yang mulai beroperasi pada 2025. Program pendidikan gratis bagi anak dari keluarga prasejahtera itu memberinya kesempatan melanjutkan sekolah sekaligus mengenal keterampilan digital yang sebelumnya belum pernah ia pelajari.
Perubahan mulai dirasakan ketika sekolah menyediakan laptop sebagai sarana belajar. Raihan belajar mengoperasikan komputer, memanfaatkan internet untuk mencari informasi, hingga mencoba menyusun kode pemrograman sederhana melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Bagi Raihan, pengalaman tersebut membuka pandangan baru mengenai teknologi. Ia mulai memahami bahwa komputer tidak hanya digunakan untuk mengakses informasi atau hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan aplikasi maupun permainan sederhana.
“Belajar di sini seperti memiliki harapan baru tentang masa depan, karena saat ini semua serba digital. Saya sendiri jadi tertarik ingin menjadi programmer,” kata Raihan saat ditemui di Sekolah Rakyat Terintegrasi 39 Kabupaten Garut, Senin (12/10/2026).
Sebelum kembali bersekolah, Raihan mengaku tidak pernah membayangkan bisa menggunakan laptop ataupun belajar menulis kode pemrograman. Kesempatan tersebut membuatnya mulai menaruh minat pada dunia teknologi dan merancang cita-cita yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauannya.
Kisah Raihan menggambarkan bagaimana akses pendidikan dapat membuka peluang baru bagi anak yang sempat kehilangan kesempatan belajar. Selain memperoleh pendidikan formal, siswa juga diperkenalkan pada keterampilan digital yang semakin dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan.
Meski demikian, pengenalan pemrograman di Sekolah Rakyat masih merupakan tahap dasar. Penguasaan keterampilan tersebut tetap memerlukan proses belajar yang berkelanjutan, pendampingan guru, serta kesempatan untuk terus berlatih dan mengembangkan kemampuan.
Bagi Raihan, perjalanan menuju cita-citanya masih panjang. Namun, kesempatan kembali bersekolah telah memberinya ruang untuk belajar, mengenali potensi diri, dan menatap masa depan dengan pilihan yang lebih luas dibandingkan ketika ia harus berhenti sekolah.***





Tinggalkan Balasan