Perempuan: Pelengkap Ruh Juang dan Madrasah Kaderisasi

|

Sejarah sering kali menempatkan laki-laki di halaman depan, sementara perempuan yang turut menjaga nyala perjuangan hanya hadir sebagai catatan kaki. Padahal, jika menelusuri perjalanan bangsa, kita akan menemukan bahwa lahirnya para pemimpin besar hampir selalu berdampingan dengan perempuan-perempuan yang menguatkan, mendidik, sekaligus menghidupkan nilai perjuangan.

Narasi besar sejarah Indonesia dipenuhi nama seperti K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, hingga Jenderal Sudirman. Namun, di balik tokoh-tokoh tersebut terdapat perempuan yang tidak sekadar menjadi pendamping rumah tangga, melainkan mitra perjuangan yang membentuk karakter, menguatkan visi, dan menyiapkan generasi penerus.

Dalam Kekasih Orang-Orang Pergerakan, Kholid O. Santoso menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya hadir sebagai pelengkap kisah para tokoh, tetapi juga mengambil bagian langsung dalam perjalanan sejarah. Dari sinilah lahir adagium bahwa “di balik laki-laki besar terdapat perempuan yang besar pula.” Namun, adagium itu sesungguhnya belum sepenuhnya tepat. Banyak perempuan tidak hanya berdiri di belakang, tetapi berjalan sejajar dalam perjuangan.

Siti Walidah merupakan contoh nyata. Bersama K.H. Ahmad Dahlan, ia membangun fondasi pendidikan perempuan melalui gerakan Aisyiyah. Baginya, perempuan bukan objek yang cukup dilindungi, melainkan subjek yang harus memperoleh ilmu, membangun kesadaran, dan mengambil peran dalam perubahan sosial. Pendidikan menjadi jalan pembebasan, bukan sekadar sarana mencetak ibu rumah tangga.

Pandangan serupa tampak pada Siti Nafiqah, istri K.H. Hasyim Asy’ari. Ia memandang keluarga sebagai ruang kaderisasi pertama. Ungkapan bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anak bukan sekadar slogan, melainkan konsep pembangunan peradaban. Dari rumah yang dibangun dengan nilai keilmuan dan akhlak lahirlah generasi seperti K.H. Abdul Wahid Hasyim hingga Abdurrahman Wahid yang memberi warna besar bagi perjalanan bangsa.

Baca Juga:  Workshop Public Speaking MA Karta Raharja Bekali Siswa Keterampilan Komunikasi dan Kepemimpinan

Begitu pula Raden Ajeng Soeharsikin yang mendampingi H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah Peneleh tidak hanya menjadi tempat tinggal keluarga, tetapi berubah menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Di sana terlihat bahwa perempuan tidak sekadar mengurus rumah, melainkan turut menciptakan ruang tumbuh bagi lahirnya pemimpin bangsa.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Dunia mengenal Joan of Arc, seorang gadis muda yang pada usia belasan tahun memilih memimpin perjuangan Prancis dalam Perang Seratus Tahun. Ia bukan berasal dari keluarga bangsawan ataupun lingkaran kekuasaan, tetapi keberanian dan keyakinannya mampu membangkitkan semangat sebuah bangsa. Joan mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu digerakkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, melainkan oleh mereka yang berani mengambil tanggung jawab.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan satu benang merah: perempuan selalu menjadi bagian penting dalam proses lahirnya perubahan. Sayangnya, hingga hari ini perempuan masih sering dipandang dari aspek fisik dibandingkan kapasitas intelektualnya. Padahal, bangsa tidak dibangun oleh rupa, melainkan oleh gagasan, keberanian, integritas, dan pengabdian.

Di Indonesia, perempuan merupakan hampir separuh dari jumlah penduduk. Artinya, masa depan bangsa juga bergantung pada sejauh mana perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, memimpin, dan berkarya. Persoalannya bukan lagi soal jumlah, tetapi tentang ruang yang diberikan kepada mereka untuk berkembang.

Baca Juga:  Modal Kuat Gus Yahya Menuju Muktamar NU ke-35, Dari Transformasi Digital hingga Kemandirian Ekonomi

Ironisnya, berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan masih menunjukkan bahwa ruang aman bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Mereka tidak hanya membutuhkan perlindungan hukum, tetapi juga kesempatan yang setara dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Dalam khazanah budaya Nusantara, sosok Srikandi menjadi simbol keberanian perempuan melawan ketidakadilan. Dalam pewayangan, Srikandi bukan dikenang karena statusnya sebagai istri Arjuna, melainkan karena kemampuan, kecerdasan, dan keberaniannya memimpin pasukan Pandawa. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh kapasitas dan tanggung jawab.

Semangat inilah yang semestinya hadir pada perempuan masa kini. Menjadi Srikandi modern bukan berarti menempatkan perempuan sebagai lawan laki-laki, melainkan sebagai mitra yang sama-sama membangun peradaban. Perjuangan bukan soal saling menggantikan peran, tetapi saling menguatkan untuk mencapai cita-cita bersama.

Karena itu, kaderisasi menjadi kunci penting. Organisasi tidak cukup hanya menyelenggarakan seminar atau pergantian kepengurusan, tetapi harus menjadi ruang yang memanusiakan manusia. Kaderisasi harus melahirkan keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan kemampuan memimpin.

Dalam konteks ini, falsafah Sunda Asih, Asuh, Asah relevan dijadikan fondasi.

Asih berarti membangun hubungan yang dilandasi kasih sayang dan penghargaan terhadap martabat manusia. Kader bukan sekadar angka dalam daftar anggota, melainkan pribadi yang harus didampingi proses pertumbuhannya.

Baca Juga:  IPNU-IPPNU Balubur Limbangan Gembleng 178 Kader Baru, Perkuat Regenerasi Pelajar NU dari Pesantren

Asuh berarti membimbing melalui ilmu, keteladanan, dan pengalaman. Semangat tanpa pengetahuan mudah kehilangan arah, sedangkan pengetahuan tanpa keberanian hanya akan berhenti sebagai wacana.

Asah berarti memberi ruang untuk berkembang. Seorang pemimpin sejati tidak takut melahirkan kader yang lebih baik daripada dirinya. Sebab, keberhasilan kaderisasi diukur dari kemampuan melahirkan generasi yang mampu melampaui pendahulunya.

Pada akhirnya, perempuan bukan sekadar pelengkap perjuangan. Mereka adalah ruh yang menghidupkan cita-cita, sekaligus madrasah kaderisasi yang melahirkan generasi penerus bangsa. Perempuan tidak cukup hanya diundang hadir dalam ruang-ruang perjuangan, tetapi harus diberi kesempatan untuk memimpin, mengambil keputusan, dan melahirkan gagasan.

Sebab, peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar, tetapi juga oleh perempuan-perempuan yang menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menyiapkan pemimpin bagi masa depan. Dari ruang keluarga, organisasi, hingga panggung kebangsaan, perempuan adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia—bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak perubahan.

Oleh: M. Depanca Ramdani, S.M. – Penulis adalah Ketua Umum PB Permata.

Disclaimer: Tulisan ini bukan karya jurnalistik redaksi Gugah.co. Rubrik Suara Pinggiran merupakan ruang bagi tokoh, akademisi, pakar, maupun masyarakat untuk menyampaikan pandangan, opini, dan gagasannya. Seluruh isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap maupun pandangan redaksi Gugah.co.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran